Advertisement

Main Ad

Sastra

ANALISIS PUISI TANAH AIRMATA
 PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA







TANAH AIRMATA
 oleh : Sutardji Calzoum Bachri

Tanah airmata tanah tumpah darahku
Mata air air mata kami
Airmata tanah air kami

Disinilah kami berdiri
Menyanyikan airmata kami

Di balik gembur subur tanahmu
Kami simpan perih kami
Di balik etalase gedung-gedungmu
Kami coba sembunyikan derita kami

Kami coba simpan nestapa kami
Kami coba kuburkan dukalara
Tapi perih tak bisa sembunyi
Ia merebak kemana-mana

Bumi memang tak sebatas pandang
Dan udara luas menunggu
Namun kalian takkan bisa menyingkir
Kemanapun melangkah
Kalian pijak airmata kami

Kemana pun terbang
Kalian kan hinggap di airmata kami
Kemanapun berlayar
Kalian arungi airmata kami

Kalian sudah terkepung
Takkan bisa mengelak
Takkan bisa kemana pergi
Menyerahlah pada kedalaman airmata kami

  1. Ringkasan Isi
Sutardji Calzoum Bachri lahir 24 juni 1941 di Rengat, Indra Giri Hulu, Riau. Beliau memulai Kariernya di bidang kesastraan pada saat mahasiswa. Ia sering mengirimkan karya ke media massa seperti Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana, dan surat kabar lokal, seperti Pikiran Rakyat di Bandung, Haiuan di Padang, serta majalah bulanan Horison dan Budaya Jaya. Sutardji Calzoum Bachri muncul tahun 1970-an. Ia adalah sastrawan yang memposisikan diri sebagai kaum tertindas. Pada periodenya dia menciptakan puisi-puisi yang mendukung kaum marjinal yang terpinggirkan. Ia menyuarakan tentang keadilan dan menentang serta mengkritik pejabat. Misalnya ia mengungkapkan pandangan kritis tentang pembangunan itu dapat dilihat dalam puisi “Tanah Airmata” yang menjelaskan kesenjangan kaum miskin dan kaya.
Puisi “Tanah Airmata” jelas tergambar dalam kondisi sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam puisi tersebut jelas menggambarkan ironi kehidupan masyarakat yang masih terpuruk baik dari segi Pendidikan, maupun ekonomi. Puisi ini diciptakan pada 1991, ketika rezim Orde Baru Soeharto masih sangat berkuasa. Rezim yang dianggap masyarakat otoriter dan represif, yang mengharamkan kebebasan berpendapat. Dalam konteks inilah “Tanah Air Mata” berani bersuara lantang mengenai perjuangan rakyat. Sutardji Calzoum terkenal dengan “kredo puisi” yang menarik sastrawan Indonesia. Sejak puisinya yang pertama dipandang para pakar sebagai karya yang telah membawa nafas baru dalam dunia perpuisian Indonesia. Sutardji Calzoum berpikir bahwa kata-kata bukan sekadar sarana untuk menyampaikan pengertian karena menurutnya, kata-kata itu sendiri adalah pengertian.

  1. Hasil Kajian
  1. Berdasarkan Posisi Pengarang
Karya sastra memang erat kaitanya dengan pengarang yang menciptakan karya sastra itu. Sutardji Calzoum memposisikan dalam penciptaan karya berkomitmennya pada kehendak mengungkap nasib bangsa yang menurut pandangannya tenggelam dalam gaya hidup yang hedonis untuk mereka yang kaya, tetapi sebagian besar rakyat menderita kelaparan dan kurang gizi. Misalnya, puisi “Tanah Airmata” jika di pandang dari posisi pengarang ia ingin memberikan kritik sosial yang terjadi pada masanya. Puisi tersebut adalah penggambaran jiwa nasionalis pengarang. Melalui puisi tersebut Ia ingin menggambarkan kritik sosial kesenjangan sosial antara masayarakat miskin dan kaya. Pada puisi “Tanah Airmata” erat kaitanya dengan pandangan kiritis tentang pembangunan nasional. Sutardji Calzoum Bachri sebagai pengarang memposisikan sebagai kaum yang tertindas atas nama pembangunan. Pandangan Sutardji Calzoum Bachri menganggap pembangunan tidak berpihak terhadap rakyat. Pembangunan nasional seperti jalan dan Gedung-gedung hanya menguntungkan pejabat dan pemilik modal dan akhirnya akan menyengsarakan rakyat kecil. Hal itu tergmbar dalam bait-bait puisi “Tanah Airmata” (Di balik gembur subur tanahmu, Kami simpan perih kami Di balik etalase gedung-gedungmu, Kami coba sembunyikan derita kami).
Jadi, posisi pengarang yakni Sutardji Calzoum Bachri dalam menciptakan puisinya memposisikan sudut pandang yang menunjukan keprihatinanya terhadap rakyat kecil atau kaum marjinal yang terpinggirkan. Hal tersebut menunjukan bahwa beliau adalah sastrawan yang selalu berfikir dan berusaha berikhtiar mengingatkan khalayak dan berjuang menyuarakan suara masyarakat.

  1. Keterhubungan Kondisi Masyarakat
Karya sastra juga selalu berkaitan dengan hubungan kondisi masyarakat yang terjadi pada masa karya sastar itu diciptakan. Hal tersebut juga dapat kita jumpai pada puisi “Tanah Airmata”. Puisi tersebut diciptakan pada 1991 oleh Sutardji Calzoum Bachri, kondisi yang terjadi di masyarakt pada masa rezim Orde Baru Soeharto masih sangat berkuasa. Pada saat itu dianggap Rezim yang otoriter dan represif, yang mengharamkan kebebasan berpendapat. Dalam konteks inilah “Tanah Air Mata” diciptaan oleh pengarang sebagai seruan perjuangan rakyat. Puisi “tanah airmata” menggambarkan ironi kondisi sosial yang terpuruk baik dari Pendidikan maupun ekonomi. Konteks dalam puisi tersebut sangat menggambarkan kondisi masayrakat yang dimiskinkan dan di pinggirkan oleh penguasa. Mislanya dalam penggalan (kami coba simpan nestapa, kami coba kuburkan duka lara). Penggalan tersebut menggambarkan ironi yang terjadi oleh masyarakat Indonesia akibat ketimpangan yang terjadi.
Hubungan puisi “tanah airmata” juga terdapat hubungan kondisi sosial masyarakat yang mengalami kesenjangan sosial. Seperti yang sudah dijelaskan diatas. Kesenjangan sosial itu terjadi antara orang kaya dan orang miskin. Antara pejabat dan masyarakat. Orang kaya dan pejabat tidak ikut mementingkan duka lara masyarakat miskin. Ia lebih mementingkan diri sendiri dan memperkaya diri sendiri. Ketimpangan tersebut juga digambarkan melalui pembangunan. Kondisi masyarkat yang masih terpuruk di tambah pada masa orde baru terjadi pembangunan yang luar biasa sehingga terjadi ketimpangan sosial. Pembangunan itu malah justru mengorbankan  rakyat kecil dan menguntungkan penguasa atau pejabat. Sehingga dalam bagian bait puisi “tanah airmat” menggambarkan ketimpangan sosial itu. Seperti (Di balik etalase Gedung gedungmu ,Kami coba sembunyikan derita kami). Penggalan puisi itu jelas menggamvarka bagaimana kesenjangan sosial antara miskin dan kaya, Gedung tinggi dan tanah subur yang telah diganti dengan pembangunan.

  1. Kecenderungan Gendre yang Berkembang
Sutardji Calzoum Bachri adalah pelopor perpuisian modern tahun 70-an. Ia dikenal dengan “Kredo Puisi” yang menarik dunia sastra Indonesia. Dalam “kredo puisi” kata-kata yang digunakan sulit dicari artinya apalagi ketika dihubungkan dengan kata yang lainnya. Kecenderungan gendre puisinya menggunakan kata-kata yang sangat minim dan terjadi pengulangan kata. Misalnya puisi “O” dan “Tragedi Winka dan Sihka”. Menurut penjelasan Sutardji Calzoum Bachri “kredo puisi” di dalam menciptakan puisi, yakni kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian' dari beban ide. Dami N. Toda menegaskan bahwa kredo puisi Sutardji mengandung kebenaran dasar estetik, mengandalkan sugesti, memungkinkan kreativitas puisi terjadi tanpa selalu terikat memulangkan pemahaman diksi puisi pada kegersangan sumber kosakata pembakuan kamus yang sering loyo kehabisan daya.
Penggunaan bahasa dalam puisi Sutardji Calzoum Bachri memang sangat berbeda dan tidak umum. Umumnya pengarang menggunakan bahasa atau kata dalam puisi dengan jelas sehingga puisi dapat mudah dipahami oleh pembaca. Sedangkan kecenderungan puisi Sutardji Calzoum Bachri menggunakan bahasa yang tidak sesuai dengan bahasa normatif seperti, menggabungkan dua kata atau leih, menghapus kata. Sehingga ia diapndang tidak mementingkan pembaca karena membingungkan penikmat sastra. Akhirnya Pada tahun 1991 sutardji menulis sebuah puisi yang sangat jauh berbeda dengan kredonya. Puisi itu berjudul "Tanah Airmata". Pada puisi tersebut mulailah Sutardji Calzoum Bachri menggunakan bahasa atau kata yang mudah dimengerti dan mudah dipahami. Ia tidak lagi menggunakan puisi yang membebaskan kata-kata seperti “kredo puisinya”. Puisinya lebih mudah diartikan dan dipahami oleh pembaca tampa perlu menerka-nerka maknanya.
Jadi, memang Sutardji Calzoum Bachri adalah pelopor sastra modern tahun 70-an. Ia dinyatakan sebagai pelopor pengucapan puisi yang berbeda dari sebelumnya yang dirintis Chairil Anwar. “kredo puisi” menjadi ciri khasnya karena memiliki pembebasan kata-kata. Namun, pada dasawarsa 1980-n dan 2000-an tampil dengan sajak-sajaknya yang lain yang lebih "jinak", Dia tidak lagi berada dalam posisi pembebas kata dari beban makna konvensional. Pemilihan kata atau bahasa yang digunakan lebih relatif mudah dipahami seperti puisi “Tanah Airmata”.



DAFTAR PUSTAKA :
                  Pusat bahasa. 2006. Sutardji Calzoum Bachri. Departemen Pendidikan
Indonesia : Jakarta.
Tersedia online di http://ejurnal.unitomo.ac.id./index.php/pbs ISSN 2621-3257 (Cetak)/ISSN 2621-2900(Online) http://dx.doi.org/10.25139/fn.v2i1.1391.

Post a Comment

0 Comments