Advertisement

Main Ad

KLAUSA ?


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam sebuah percakapan, gagasan yang disampaikan seseorang akan dapat dipahami oleh mitra bicaranya dengan benar apabila dinyatakan dalam kalimat-kalimat yang baik dan benar pula. Demikian halnya dalam berbahasa tulis, diperlukan keterampilan merangkai kata-kata, merangkai klausa, sehingga menjadi  kalimat-kalimat bermakna. Dengan keterampilan menyusun kata-kata, klausa, kalimat diharapkan dengan menghindari penggunaan kalimat yang taksa dalam berkomunikasi.

Agar dapat memproduksi bahasa Indonesia dengan baik, kita harus memahami makna kata yang digunakan dan menguasai alat-alat sintaksisnya serta struktur sintaksis. Alat sintaksis adalah alat-alat untuk menghubungkan kata-kata menjadi kelompok kata.

Sedangkan konstruksi sintaksis adalah bangunan atau struktur yang berupa satuan-satuan bahasa yang bermakna, yang berupa frasa, klausa, dan sintaksis (Sukini, 2010:1). Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa unsur langsung sebuah konstruksi sintaksis adalah kata, frasa, dan klausa.

Namun, yang akan dibahas dalam makalah ini hanyalah tentang klausa, khususnya hubungan antarklausa. Hubungan antarklausa ini penting dibahas karena menjadi landasan penting dalam menyampaikan gagasan, sehingga gagasan itu dapat diterima pendengar atau pembaca persis seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau penutur.

Hubungan antarklausa menyangkut berbagai hubungan yang terdapat antara satu klausa dengan klausa lain di dalam kalimat majemuk setara atau bertingkat. Hubungan antarklausa ditandai kehadiran konjungtor (kata hubung) pada awal salah satu klausa tersebut. Hubungan antarklausa yang akan dibahas dalam makalah ini adalah hubungan antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat atau hubungan subordinatif.

1.2 Rumusan Masalah                                                           

            Permasalahan yang dibahas dalam makalah ini sebagai berikut:

1.      Bagaimanakah hubungan koordinatif antarklausa?

2.      Bagaimanakah hubungan subordinatif antarklausa?

 

1.3 Tujuan

Penulisan makalah ini bertujuan mendeskripsikan:

1.      Hubungan  koordinatif antarklausa?

2.      Hubungan subordinatif antarklausa?

 BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Klausa

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat.

Sebuah kalimat majemuk, baik setara mupun bertingkat, terdiri atas lebih dari satu klausa yang saling berhubungan. Ada dua macam hubungan antarklausa, yaitu hubungan koordinatif (setara) dan hubungan subordinatif (bertingkat/tak setara).

2.2 Hubungan Antarklausa

Sebuah kalimat dapat mengandung satu klausa atau lebih. Kalimat yang mengandung dua klausa atau lebih kita kenal dengan istilah kalimat majemuk, baik kalimat majemuk setara maupun kalimat majemuk bertingkat. Hubungan antarklausa dalam kalimat majemuk dapat ditandai dengan kehadiran konjunkor (kata hubung) pada awal salah satu klausa tersebut. Perhatikan contoh kalimat-kalimat di bawah ini.

(1)        Pardi tinggal di daerah kumuh dan kakaknya tidak bisa membantunya.

(2)        Walaupun kedua pahlawan proklamator itu kadang-kadang berselisih pendapat sejak masa pergerakan nasional, keduanya tetap bersatu dalam mencapai kemerdekaan Indonesia.

(3)        Saya tak dapat bertahan dengan keadaan itu sebab semuanya itu terasa begitu menyiksa.

(4)        Pembangunan akan berjalan dengan lancar jika segenap lapisan masyarakat turut  aktif mengambil bagian.

(5)        Dia menyarankan kepada kami supaya kami menunggu.

(6)        Tamu tadi tidak menyebutkan di mana dia tinggal.

(7)        Panglima Angkatan Bersenjata mengatakan bahwa mereka yang mengganggu keamanan  akan ditindak dengan tegas.

Pada kalimat (1), klausa Pardi tinggal di daerah kumuh dihubungkan dengan klausa kakaknya tidak bisa membantunya dengan menggunakan konjungtor dan. Pada kalimat (2), (3), (4), (5), (6), dan (7) hubungan antarklausa masing-masing ditandai oleh walaupun, sebab, jika, supaya, di mana, dan bahwa.

Hubungan antarklausa dapat juga kita lihat dengan adanya pelesapan bagian dari kalusa, khususnya subjek. Perhatikan contoh yang berikut.

(8)        Engkau harus menjadi orang pintar, harus tetap beribadat supaya mendapat rezeki yang bersih dan halal.

(9)        Mereka duduk, memperhatikan orang yang lalu lalang di muka rumahnya.

(10)    Para anggota kelompok tani duduk dengan tenang di bawah pohon, berusaha mengikuti    penjelasan penyuluh pertanian tersebut.

(11)    Kami akan naik haji sesudah nikah.

Kalimat (8) terdiri atas tiga klausa, yaitu (i) Engkau harus menjadi orang pintar, (ii) (engkau) harus tetap beribadat, dan (iii) (engkau)mendapat rezeki yang bersih dan halal. Subjek ketiga klausa itu sama, yaitu engkau. Klausa pertama dan kedua (bersama klausa ketiga) dipisahkan dengan tanda koma. Klausa kedua dan ketiga dihubungkan oleh konjungtor supaya.

Dalam klaimat (9) subjek kedua klausa itu adalah mereka, sedangkan dalam kalimat (10) subjeknya adalah para anggota kelompok tani itu. Pada kalimat (11) subjek kami juga dihilangkan setelah kata sesudah karena subjek klausa itu sama dengan subjek klausa utamanya. Perlu diperhatikan bahwa dalam ujaran atau bahasa lisan, pembicara umumnya menandai batas kedua klausa itu dengan jeda di antaranya.

 

2.3 Hubungan Koordinasi dan Subordinasi

Kalimat majemuk setara maupunkalimat mejemuk bertingkat mempunyai dua klausa atau lebih yang saling berhubungan. Ada dua cara untuk menghubungkan klausa dalam sebuah kalimat majemuk, yaitu dengan koordinasi dan subordinasi.

 

2.3.1   Hubungan Koordinasi

Koordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih yang masing-masing mempunyai kedudukan yang setara dalam struktur konstituen kalimat. Hasilnya adalah satuan yang sama kedudukannya. Hubungan antara klausa-klausanya tidak menyangkut satuan yang membentuk hierarki karena klausa yang satu bukanlah konstituen dari klausa yang lain. Secara diagramatik hubungan ini dapat dilihat dalam bagan berikut yang memperlihatkan bahwa konjungtor tidak termasuk dalam kalusa mana pun, tetapi merupakan konstituen tersendiri.

 

https://3.bp.blogspot.com/-6rwM6iR9QWs/WNUcIIrfzNI/AAAAAAAAAB0/BUcQlL4byI0-B_SbZ4DYqyi8xffvp2UXwCLcB/s320/Bagan%2B1%2BBlog.png

 

 

Untuk memperjelas bagan di atas, perhatikanlah contoh yang berikut ini.

(1)  Pengurus Dharma Wanita mengunjungi panti asuhan.

(2)  Mereka memberi penghuninya hadiah

(3)  Pengurus Dharma wanita mengunjungi panti asuhan dan mereka memberi penghuninya hadiah.

 

Klausa (1) dan (2) digabungkan dengan cara koordinasi sehingga terbentuklah kalimat majemuk setara (3). Oleh karena klausa-klausa dalam kalimat majemuk yang disusun dengan cara koordinasi mempunyai kedudukan setara atau sama, maka klausa-klausa itu semuanya merupakan klausa utama.

            Sesuai dengan bagan di atas, pembentukan klaimat (3) dapat dijelaskan dalam bagan sebagai berikut.



https://4.bp.blogspot.com/-IHPI8ajE7-4/WNUcILF2LWI/AAAAAAAAAB4/cMaXTzUH0foNjI_bIVZj3vAPoWp85EjWQCEw/s320/Bagan%2B2%2BBlog.png

 

Pada bagan di atas dapa dilihat bahwa kedua klausa utamanya setara. Klausa yang satu bukan merupakan bagian dari klausa yang lainnya: kedua-duanya mempunyai kedudukan yang sama dan dihubungkan oleh konjungtor dan. Selain dan, ada beberapa konjungtor lain untuk menyusun hubungan koordinasi, yaitu atau, tetapi, serta, lalu, kemudian, lagipula, hanya, padahal, sedangkan, baik ... maupun ..., tidak ... tetapi ..., dan bukan(nya) ... melainkan .... Perhatikan beberapa contoh berikut ini.

(1) Anda datang ke rumah saya atau saya datang ke rumah Anda.

(2)  Ia segera masuk ke kamar lalu berganti pakaian.

(3)  Polisi telah memberi tembakan peringatan tetapi penjahat itu tetap tidak mau menyerah.

(4)   Orang tua gadis itu sedih sekali serta kecewa terhadap kelakuan anaknya.

(5)   Saya memberitahukan hal itu kepada anak-anak kemudian segera kembali ke    kantor.

(6)   Koperasi karyawan itu tidak dikelola secara profesional, lagipula modalnya sangat kecil.

(7)   Dia bukannya sakit, melainkan malas saja.

(8)   Mereka tidak marah, hanya kecewa terhadap perlakuannya.

(9)   Dia di kawasan industri, hanya saja dia tidak bekerja di sana.

(10) Siti masih sering pulang malam, atau malah pagi buta.

Konjungtor di atas bersifat koordinatif dan, karenanya, berfungsi sebagai koordinator.

 

2.3.2 Hubungan Subordinasi

Subordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih sehingga terbukti kalimat mejemuk yang salah satu klausanya menjadi bagian dari klausa yang lain. Jadi klausa-klausa dalam kalimat majemuk yang disusun dengan cara subordinasi itu tidak mempunyai kedudukan yang setara. Dengan kata lain, dalam kalimat majemuk yang disusun melalui cara yang subordinatif terdapat klausa yang berfungsi sebagai konstituen klausa yang lain. Hubungan antara klausa-klausa itu bersifat hierarkis. Oleh karena itu, kalimat majemuk yang disusun dengan cara subordinatif itu disebut kalimat majemuk bertingkat. Perhatikan penggabungan klausa dengan cara subordinatif berikut ini.

(1)   Orang tua itu mengatakan (sesuatu).

(2)   Anak gadisnya mencintai pemuda itu sepenuh hati.

(3)   Orang tua itu mengatakan bahwa anak gadisnya mencintai pemuda itu sepenuh hati.

Klausa (1) dan (2) digabungkan dengan cara subordinatif sehingga terbentuk kalimat majemuk bertingkat (3).

Hubungan subordinasi dapat digambarkan sebagai berikut.

 

https://3.bp.blogspot.com/-7PcZvEU08Tc/WNUcIBvmfOI/AAAAAAAAACI/xYcBiiTbBdQm7tRTRAYbPVLivPc3mSFmQCEw/s320/Bagan%2B3%2BBlog.png

 

Dalam bagan di atas dapat dilihat bahwa Klausa 2 berkedudukan sebagai konstituen Klausa 1. Klausa 2 yang berkedudukan sebagai konstituen Klausa 1 disebut klausa subordinatif, sedangkan Klausa 1, tempat dilekatkannya Klausa 2, disebut klausa utama.

Sesuai dengan bagan di atas, pembentukan kalimat majemuk bertingkat (3) dapat disajikan dalam bagan berikut.

https://3.bp.blogspot.com/-pI7VQWVByFg/WNUcI1GK-2I/AAAAAAAAACI/_ascWx290YEXFAcS5e-udcdeBw-vHS0KwCEw/s320/Bagan%2B4%2BBlog.png
 

 

 

 

 

 

 

 

Pada bagan itu dapat dilihat bahwa klausa utama orang tua itu mengatakan digabungklan dengan klausa subordinatif anak gadisnya mencintai pemuda itu sepenuh hati dengan menggunakan konjungtor bahwa. Dalam struktur kalimat (3) klausa subordinatif menduduki posisi objek (O). Dengan kata lain, klausa subordinatif itu merupakan klausa nominal karena menduduki fungsi yang biasa diduduki oleh nomina. Selain konjungtor bahwa, klausa nominal yang disubordinasikan dapat pula ditandai oleh konjungtor berupa kata tanya seperti apakah (atau tidak).

(a)   Saya dengar bahwa dia akan berangkat besok.

(b)   Saya tidak yakin apakah dia akan datang (atau tidak).

(c)    Saya tahu di mana anak itu tinggal.

Klausa subordinatif dapat pula berupa klausa adverbial dalam arti klausa itu berfungsi sebagai keterangan. Konjuntor yang digunakan untuk menggabungkan klausa adverbial dengan klausa utama dapat dikelompokkan berdasarkan jenis klausa adverbial sebagai berikut.

a.       Konjungtor Waktu: setelah, sesudah, sebelum, sehabis, sejak, selesai, ketika, tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi, selama, sehingga, sampai

b.      Konjungtor Syarat: jika, kalau, jikalau, asal(kan), bila, manakala

c.       Konjungtor Pengandaian: andaikan, seandainya, andaikata, sekiranya

d.      Konjuntor Tujuan: agar, supaya, biar

e.       Konjungtor Konsesif: biarpun, meski(pun), sungguhpun, sekalipun, walau(pun), kendati(pun)

f.        Konjungtor Pembandingan atau Kemiripan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, bagaikan, laksana, daripada, alih-alih, ibarat

g.      Konjungtor Sebab atau Alasan: sebab, karena, oleh karena

h.      Konjungtor Hasil atau Akibat: sehingga, sampai(-sampai)

i.        Konjungtor Cara: dengan, tanpa

j.        Konjungtor Alat: dengan, tanpa

Perhatikan contoh berikut.

(a) Parttisipasi masyarakat terhadap program keluarga berencana meningkat sesudah mereka menyadari manfaat keluarga kecil.

(b) Jika masyarakat menyadari pentingnya program keluarga berencana, mereka pasti mau berpartisipasi dalam menyukseskan program tersebut.

(c)  Andaikan saya memperoleh kesempatan, saya akan mengerjakan pekerjaan itu sebaik-baiknya.

(d)   Anda harus berusaha dengan sungguh-sungguh agar dapat berhasil dengan baik.

(e)  Meskipun usianya sudah lanjut, semangat belajarnya tidak pernah padam.

(f)  Saya memahami keadaan dirinya sebagaimana ia memahami keadaan diriku.

(g)  Proyek perbaikan kampung kumuh itu berhasil karena mendapat dukungan dari masyarakat.

(h)  Ledakan bom mobil itu demikian hebatnya sehingga meruntuhkan atap gedung-gedung di sekitar kejadian

(i)  Pertani berusaha meningkatkan hasil panenya dengan menggunakan bibit unggul, pemupukan, irigasi, pemberantasan hama, dan penerapan teknologi pascapanen yang tepat.

Kalimat (a) yang mengandung klausa adverbial yang menyatakan waktu dapat digambarkan sebagai berikut.

 

https://1.bp.blogspot.com/-qojjx2qU70U/WNUcI7GExvI/AAAAAAAAACI/8TDFW5e_ypEXZWLy-6oCTx87k-Li_YLHQCEw/s320/Bagan%2B5%2BBlog.png

 

Kalimat majemuk bertingkat dapat pula disusun dengan memperluas salah satu fungsi sintaksisnya (fungsi S, P, O, dan Ket) dengan klausa. Perluasan itu dilakukan dengan menggunakan yang. Perhatikan kalimat-kalimat berikut.

(a)   Paman saya yang tinggal di Bogor meninggal kemarin.

(b)   Paman saya guru, yang mengajar di beberapa sekolah.

(c)   Saya membaca buku yang mengisahkan perjuangan Pengeran Dipenegoro.

(d)   Pemerintah membangun jalan raya di daerah transmigrasi yang menampung transmigran dari Jawa dan Bali.

Dalam kalimat (a) fungsi S (Paman saya) diperluas dengan klausa yang tinggal di Bogor. Dalam kalimat (b) fungsi P (guru), yang merupakan predikat dalam kalimat nominal, diperluas dengan klausa yang mengajar di beberapa sekolah. Dalam kalimat (c) fungsi O (buku) diperluas dengan klausa yang mengisahkan perjuangan Pangeran Dipenogoro. Dalam kalimat (d) fungsi Ket (di daerah transmigrasi) diperluas dengan klausa yang menampung transmigran dari Jawa dan Bali. Klausa perluasan dengan yang yang disematkan dalam klausa utama disebut klausa relatif dan berfungsi sebagai keterangan bagi fungsi sintaksis tertentu.

Kalimat majemuk bertingkat pula terbentuk bila dua proposisi di perbandingkan, satu dinyatakan pada klausa utama dan satunya lagi pada klausa subordinatif. Klausa subordinatif ini disebut klausa perbandingan. Klausa perbandingan biasanya dibentuk dengan menggunakan bentuk lebih atau kurang bersama-sama dengan konjungtor dari(pada), dan sama ... dengan. Perhatikan contoh berikut.

(a)    Dia bekerja lebih lama daripada istrinya (bekerja).

(b)  Saya berbicara kurang fasih dalam bahasa daerah daripada (saya berbicara (fasih)) dalam bahasa Indonesia.

(c)   Kapitalisme sama berbahayanya dengan komunisme (berbahaya).

Perlu dicatat bahwa predikat bekerja  dan keterangan lama pada kalimat (a) pada klausa subordinatif wajib dilesapkan.

 

2.4  Ciri - Ciri Hubungan Koordinasi Dan Subordinasi

2.4.1 Ciri-Ciri Hubungan Koordinasi

1.    Hubungan koordinasi menggabungkan dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor koordinatif dapat berupa kalimat majemuk.

2.    Pada umumnya posisi klausa yang diawali oleh koordinator danatau, dan tetapi tidak dapat diubah. Apabila posisinya diubah, perubahan itu mengakibatkan munculnya kalimat majemuk setara yang tidak berterima.

Contoh:

Dalam pengungsian itu saya sering melihat orang ditembak musuh dan mayatnya dibuang begitu saja

Bila urutan posisi klausa pada kalimat diubah, perubahan itu akan mengakibatkan munculnya kalimat majemuk setara yang tidak berterima.

 

Contoh:

Dan mayatnya dibuang begitu saja, dalam pengungsian itu saya sering melihat orang ditembak musuh

3.    Urutan klausa yang tetap dalam hubungan koordinasi berhubungan erat dengan pronominalisasi.

Contoh:

Dia suka membaca cerpen, tetapi Rina  tidak mau membeli buku itu

4.    Sebuah koordinator dapat didahului oleh koordinator lain untuk memperjelas atau mempertegas hubungan antara kedua klausa yang digabungkan.

Contoh:

Sidang mempertimbangkan usul salah seorang peserta dan kemudian menerimanya dengan sura bulat

Penggunaan koordinator kemudian sesudah koordinator dan, adalah untuk memperjelas gabungan klausa yang menunjukkan hubungan waktu.

 

Hubungan antarklausa yang koordinasi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu:

(1)  Hubungan aditif (jumlah)

Hubungan jumlah ditunjukkan klausa kedua berisikan informasi yang menambahkan isi informasi pada klausa pertama. Kata penghubung yang digunakan adalah dan atau bersama.

- Saya dan Hardi pergi ke sekolah

- Saya bersama teman-teman memancing di laut

Perbedaan antara kata hubung dan dengan bersama adalah kata hubung dan dapat menghubungkan nomina/frasa nomina dan nomina/frasa nominal atau pun verba/frasa verbal dan verba/frasa verbal. Sedangkan kata hubung bersama menghubungkan nomina/frasa nominal dan nomina/frasa nominal

(2)  Hubungan adversatif (pertentangan)

      Hubungan pertentangan biasanya ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan informasi yang bertentangan dengan isi informasi pada klausa pertama. Hubungan pertentangan terdiri atas pertentangan yang menyatakan penguatan, pertentangan yang menyatakan implikasi, dan pertentangan yang menyatakan perluasan.

(a) Hubungan pertentangan yang menyatakan penguatan ditunjukkan oleh klausa kedua yang menyatakan sesuatu yang merupakan pertentangan yang menguatkan dan menandasakan informasi pada klausa pertama.

1. Ia tidak hanya rajin dan pandai, tetapi juga teliti dan rendah hati

2. Penculikan itu tidak hanya menimbulkan marah warga, melainkan juga menimbulkan trauma pada orang tua

(b) Hubungan pertentangan yang menyatakan implikasi ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan pertentangan terhadap implikasi informasi yang dinyatakan oleh klausa pertama.

1. Adikku belum bersekolah, tetapi ia sudah bisa membaca dengan mengeja

2. Aku sudah lama berdagang, tetapi belum juga punya banyak uang

(c) Hubungan pertentangan menyatakan perluasan yang ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan informasi tambahan untuk melengkapi apa yang dinyatakan oleh klausa pertama. Kadang-kadang informasi justru memperlemah klausa pertama.

1.  Budaya daerah harus dijaga, tetapi budaya luar yang baik jangan  ditolak

2. Anak-anak Indonesia harus diajari bahasa Indonesia dengan baik, tetapi bahasa asing perlu juga dikuasai untuk memperluas cakrawala

(3)  Hubungan alternatif (pilihan)

Hubungan pilihan adalah hubungan yang menyatakan pilihan di antara berbagai kemungkinan yang ada yang ditunjukkan oleh klausa yang dihubungkan itu. Hubungan pilihan dapat menyatakan pertentangan, tetapi juga tidak.

(a) Hubungan pilhan yang menyatakan pertentangan

1. Aku terus bersekolah dengan sengsara atau berhenti, lalu mencari uang

2. Kau harus mengatakan kebenaran atau kau harus berbohong dengan mendustai dirimu sendiri

(b) Hubungan pilihan yang tidak menyatakan pertentangan.

1. Dia duduk merenungkan masa lalu ataukah sedang merancang masa dating

2. Kamu datang ke sini mau belajar atau mau main kartu

 

2.4.2  Ciri-Ciri Hubungan Subordinasi

1.    Subordinatif menghubungkan dua klausa yang salah satu di antaranya merupakan bagian dari klausa yang lain. Di samping itu, salah satu klausa yang dihubungkan oleh konjungtor subordinatif dapat pula berupa kalimat majemuk.

Contoh:

Ketua partai itu tetap menyatakan kebanggaannya karena ternyata partainya masih dapat meraih hampir empat belas juta suara pemilih setelah suara itu dihitung ulang.

2.    Pada umumnya posisi klausa yang diawali oleh subordinator dapat berubah.

Contoh:

Para pejuang itu pantang menyerah selama hayat dikandung badan.

Dapat pula menjadi:

Selama hayat di kandung badan, para pejuang itu pantang menyerah.

3.    Hubungan subordinatif memungkinkan adanya acuan kataforis.

Contoh:

Walaupun dia suka lagu keroncong, Budi tidak mau membeli kaset itu.

Hubungan subordinatif antarklausa

(1)  Hubungan sebab

Hubungan sebab terdapat di dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan sebab atau alasan terjadinya apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Kata penghubung yang digunakan adalah sebab, karena, dan oleh karena.

Perhatikan contoh :

1.   Pusat penelitian Kependudukan terpaksa menangguhkan beberapa rencana penelitian karena belum ada tenaga yang siap

2.   Keadaan menjadi genting lagi oleh karena musuh akan melancarkan aksinya lagi di Bandung

(2)  Hubungan akibat

  Hubungan akibat terdapat di dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan akibat dari kejadian atau perbuatan yang dinyatakan dalam klausa utama. Kata penghubung yang digunakan adalah akibat, akibatnya, sehingga, maka dan hasilnya.

Perhatikan contoh :

1.   Kami tidak setuju maka kami protes

2.   Penjelasan diberikan sekedarnya sehingga anak-anak tidak bisa mengerjakan PR

(3)  Hubungan tujuan

Hubungan tujuan terdapat di dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan tujuan dri apa yang disebut oleh klausa pertama. Kata penghubung yang digunakan adalah untuk, demi, agar, supaya dan biar.

Perhatikan contoh :

1.   Saya bekerja sampai malam supaya anak-anak saya dapat melanjutkan sekolahnya.

2.   Saya sengaja tinggal di desa agar dapat mengetahui kehidupan di sana.

(4) Hubungan syarat

Klausa subordinatif kalimat yang menunjukkan hubungan syarat menyatakan syarat terlaksananya apa yang disebutkan oleh klausa pertama. Kata penghubung yang digunakan adalah jika, kalau, jikalau, dan asalkan.

Perhatikan contoh :

1.   Jika anda mau mendengarkannya, saya tentu senang sekali

2.   Ini dilakukannya dalam keadaan darurat kalau waktu sedang mendesak

(5)  Hubungan waktu

Hubungan waktu ditunjukkan oleh klausa koordinatif yang menyatakan waktu terjadinya suatu peristiwa atau keadaan yang disebutkan oleh klausa pertama. Hubungan waktu terbagi menjadi waktu permulaan, waktu bersamaan, waktu berurutan, waktu batas akhir terjadinya peristiwa atau keadaan.

(a)  Waktu batas permulaan

Waktu batas permulaan ditandai oleh kata penghubung sejak atau sedari

Perhatikan contoh:

1.    Saya sudah terbiasa hidup sederhana sejak saya masih kecil

 (b) Waktu bersamaan

Waktu bersamaan ditandai oleh kata penghubung ketika, pada waktu, (se)waktu, serta, seraya, sambil, sementara, selagi, selama, dan tatkala.

Perhatikan contoh :

1.    Debat sengit berlangsung terus selama sidang berlangsung.

2.    Aku tidak mengerti akan hal tersebut ketika aku masih anak-anak.

(c)  Waktu berurutan

Waktu berurutan ditandai oleh kata penghubung sebelum, sehabis, setelah, sesudah, seusai, dan begitu.

Perhatikan contoh :

1.    Ia baru kembali ke desa setelah biaya untuk melanjutkan sekolahnya tidak ada.

2.    Sehabis mengerjakan pekerjaan rumahnya, Adik langsung pergi ke kamar tidur.

(d)  Waktu batas akhir

Waktu batas akhir digunakan untuk menyatakan akhir atau ujung suatu proses. Waktu batas akhir ditandai oleh kata penghubung sampai dan kepada.

Perhatikan contoh :

1.    Gotong-royong berjalan lancer sampai kami menyelesaikan sekolah.

2.    Yanti mengurus adik-adiknya hingga bapaknya pulang kantor

(6)  Hubungan konsesif

Hubungan konsesif terdapat di dalam kalimat subordinatif yang klausa pertamanya tidak mengubah pernyataan yang terdapat di dalam klausa pertama. Hubungan konsesif biasanya ditandai oleh kata penghubung sungguh (pun), biar (pun), meski (pun), walau (pun), sekali (pun), dan kendati (pun).

Perhatikan contoh:

1.   Walupun hatinya sangat sedih, dia tidak pernah menangis di hadapanku

2.   Perjuangan berjalan terus kendatipun musuh telah menduduki hampir semua kota besar

(7)  Hubungan cara

Hubungan cara ditandai oleh kata penghubung dengan atau tanpa. Klausa subordinatifnya menyatakan cara pelaksanaan sesuatu.

  Perhatikan contoh :

1.   Pemburu itu menunggu diatas bukit kecil dengan jari telunjuknya melekat pada pelatuk senjatanya

2.   Petinju itu mencoba bertahan dengan kedua tangannya menutup muka

(8)  Hubungan kenyataan

Klausa subordinatif pada hubungan kenyataan atau hubungan komplementatif bertugas melengkapi verba atau melengkapi nomina subjek. Subordinator yang dipakai adalah padahal dan sedangkan.

Perhatikan contoh :

1.   Dia pura-pura tidak tahu padahal ia tahu banyak.

2. Ibu sedang memasak, sedangkan Ayah sedang membaca Koran

(9)  Hubungan alat

Hubungan alat terdapat pada kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan alat yang disebutkan oleh klausa utama. Kata penghubung yang digunakan adalah dengan, tidak dengan, memakai, dan menggunakan.

Perhatikan contoh :

1.   Dia menangkap ikan dengan mempergunakan kail

2.   Mereka membersihkan Monas tidak dengan peralatan modern.

(10)  Hubungan perbandingan

Hubungan perbandingan terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatif dan klausa utamanya memiliki unsur yang sama dan tarafnya bersifat sama (ekuatif) atau unurnya sama, tetapi tarafnya berbeda (komparatif).

(a)    Hubungan ekuatif

Hubungan ekuatif mempersyaratkan persamaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. Bentuk persamaan yang digunakan adalah sama+adjektiva+dengan atau se-+adjektiva

Perhatikan contoh :

1.    Gaji istrinya sama besar dengan gaji saya

2.    Rumah itu setua saya.

(b)  Hubungan komparatif

Hubungan komparatif mempersyaratkan perbedaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. Bentuk komparasi yang digunakan adalah lebih/kurang+dari atau lebih/kurang+adjektiva+daripada.

Perhatikan contoh :

1.    Dia kurang mahir berbahasa Inggris daripada anaknya.

2.    Anak saya lebih senang nonton film mandarin daripada kartun.

(11)  Hubungan hasil

Hubungan hasil terdapat di dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan hasil atau akibat dari apa yang dinyatakan oleh klausa utama. Hubungan hasil ditandai oleh kata penghubung sampai, sampai-sampai, sehingga, dan maka.

Perhatikan contoh :

1.    Biaya pengobatannya sungguh mahal sampai-sampai perhiasan istrinya habis terjual

2.    Kami tidak setuju maka kami protes.

(12)  Hubungan atributif

Hubungan atributif ditandai oleh kata penghubung subordinatif yang. Terdapat dua macam hubungan atributif, yaitu atributif restriktif dan atributif takrestriktif. Kalusa dengan yang itu sering juga disebut kalusa relatif.

(a)  Hubungan atributif restriktif

Hubungan seperti ini mewatasi makna nomina yang diterangkannya. Akibatnya, keterangan pewatas itu menjadi bagian integral dari nomina yang diterangkannya itu.

- Istrinya yang tinggal di Bogor berjualan telur

(b) Hubungan atributif takrestriktif

Klausa relatif pada hubungan atributif takrestriktif hanya memberikan tambahan informasi pada nomina yang diterangkannya. Jadi, kalusa relatif itu tidak merupakan keterangan pewatas bagi nomina yang diterangkannya itu. Di dalam bahasa tulis, kalimat dengan klausa relatif yang menjadi keterangan tambahan itu diapit oleh tanda koma.

- Istrinya, yang tinggal di Bogor, berjualan telur

(13) Hubungan andaian

Klausa subordinatif pada hubungan pengandaian berisikian andaian atas sesuatu yang terdapat pada klausa utama. Di dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa jenis andaian, seperti:

(a) Andaian yang tidak mungkin terjadi

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung andai kata, seandainya, dan andaikan.

(b) Andaian yang mungkin terjadi

                Andaian jenis ini biasanya menggunakan kata penghubung pengandaian jika, kalau, jikalau, apabila, dan bilamana.

(c) Andaian yang menggambarkan kekhawatiran

     Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung jangan-jangan.

(d) Andaian yang berhubungan dengan ketidakpastian.

                Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung kalau-kalau.

(14)  Hubungan optatif

Klausa utama kalimat majemuk yang berisikan hubungan optatif menyatakan harapan agar apa yang ada pada klausa subordinatif dapat terjadi. Kata penghubung yang digunakan adalah agar, semoga, moga-moga, dan mudah-mudahan.

Kita berdoa mudah-mudahan pertemuan ini cepat selesai.

 

  

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

 

            Hubungan koordinasi  adalah menggabungkan dua klausa atau lebih yang masing-masing mempunyai kedudukan yang sama atau sederajat dalam struktur konstituen kalimat. Hubungan koordinasi mempunyai empat cirri sintaksis yaitu: menggabungkan dua klausa atau lebih, posisi klausa diawali oleh konjungtor dan, atau, dan tetapi, urutan klausa yang tetap, dan dapat didahului oleh konjungtor lain.

            Subordinatif menggabungkan dua klausa atau lebih sehingga klausa yang satu menjadi bagian klausa lain. Jadi klausa-klausa dalam kalimat majemuk yang disusun secara subordinatif tidak mempunyai kedudukan setara. Dengan kata lain, dalam kalimat majemuk yang disusun secara subordinatif terdapat kalusa yang berfungsi sebagai konstituen klausa lain. Artinya terdapat klausa utama dan klausa bawahan. Hubungan antara klausa-klausa ini bersifat hirarkis. Oleh karena itu, kalimat majemuk yang disusun secara subordinatif itu disebut kalimat majemuk bertingkat.

 


3.2 Saran

Kelonggaran dalam penggunaan bahasa yang berfungsi hanya sebatas sarana ujaran cenderung memberi dampak kesembarangan dalam penggunaan bahasa. Oleh karena itu, sudah selayaknya semua warga Indonesia mempelajari tata bahasa baku bahasa Indonesia untuk melestarikan penggunaan bahasa Indonesia yang benar sebagai identitas bangsa.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Alwi, Hasan, A.M. Moeliono.2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Chaer, Abdul. 2011. Ragam Bahasa Ilmiah, Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa.2007. Kamus Besar Bahasa  Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Parera, J.D. 2009. Dasar-Dasar Analisis Sintaksis. Penerbit Erlangga Jakarta: PT Gelora Aksara.

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Dalam sebuah percakapan, gagasan yang disampaikan seseorang akan dapat dipahami oleh mitra bicaranya dengan benar apabila dinyatakan dalam kalimat-kalimat yang baik dan benar pula. Demikian halnya dalam berbahasa tulis, diperlukan keterampilan merangkai kata-kata, merangkai klausa, sehingga menjadi  kalimat-kalimat bermakna. Dengan keterampilan menyusun kata-kata, klausa, kalimat diharapkan dengan menghindari penggunaan kalimat yang taksa dalam berkomunikasi.

Agar dapat memproduksi bahasa Indonesia dengan baik, kita harus memahami makna kata yang digunakan dan menguasai alat-alat sintaksisnya serta struktur sintaksis. Alat sintaksis adalah alat-alat untuk menghubungkan kata-kata menjadi kelompok kata.

Sedangkan konstruksi sintaksis adalah bangunan atau struktur yang berupa satuan-satuan bahasa yang bermakna, yang berupa frasa, klausa, dan sintaksis (Sukini, 2010:1). Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa unsur langsung sebuah konstruksi sintaksis adalah kata, frasa, dan klausa.

Namun, yang akan dibahas dalam makalah ini hanyalah tentang klausa, khususnya hubungan antarklausa. Hubungan antarklausa ini penting dibahas karena menjadi landasan penting dalam menyampaikan gagasan, sehingga gagasan itu dapat diterima pendengar atau pembaca persis seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau penutur.

Hubungan antarklausa menyangkut berbagai hubungan yang terdapat antara satu klausa dengan klausa lain di dalam kalimat majemuk setara atau bertingkat. Hubungan antarklausa ditandai kehadiran konjungtor (kata hubung) pada awal salah satu klausa tersebut. Hubungan antarklausa yang akan dibahas dalam makalah ini adalah hubungan antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat atau hubungan subordinatif.

1.2 Rumusan Masalah                                                           

            Permasalahan yang dibahas dalam makalah ini sebagai berikut:

1.      Bagaimanakah hubungan koordinatif antarklausa?

2.      Bagaimanakah hubungan subordinatif antarklausa?

 

1.3 Tujuan

Penulisan makalah ini bertujuan mendeskripsikan:

1.      Hubungan  koordinatif antarklausa?

2.      Hubungan subordinatif antarklausa?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Klausa

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat.

Sebuah kalimat majemuk, baik setara mupun bertingkat, terdiri atas lebih dari satu klausa yang saling berhubungan. Ada dua macam hubungan antarklausa, yaitu hubungan koordinatif (setara) dan hubungan subordinatif (bertingkat/tak setara).

 

2.2 Hubungan Antarklausa

Sebuah kalimat dapat mengandung satu klausa atau lebih. Kalimat yang mengandung dua klausa atau lebih kita kenal dengan istilah kalimat majemuk, baik kalimat majemuk setara maupun kalimat majemuk bertingkat. Hubungan antarklausa dalam kalimat majemuk dapat ditandai dengan kehadiran konjunkor (kata hubung) pada awal salah satu klausa tersebut. Perhatikan contoh kalimat-kalimat di bawah ini.

(1)        Pardi tinggal di daerah kumuh dan kakaknya tidak bisa membantunya.

(2)        Walaupun kedua pahlawan proklamator itu kadang-kadang berselisih pendapat sejak masa pergerakan nasional, keduanya tetap bersatu dalam mencapai kemerdekaan Indonesia.

(3)        Saya tak dapat bertahan dengan keadaan itu sebab semuanya itu terasa begitu menyiksa.

(4)        Pembangunan akan berjalan dengan lancar jika segenap lapisan masyarakat turut  aktif mengambil bagian.

(5)        Dia menyarankan kepada kami supaya kami menunggu.

(6)        Tamu tadi tidak menyebutkan di mana dia tinggal.

(7)        Panglima Angkatan Bersenjata mengatakan bahwa mereka yang mengganggu keamanan  akan ditindak dengan tegas.

Pada kalimat (1), klausa Pardi tinggal di daerah kumuh dihubungkan dengan klausa kakaknya tidak bisa membantunya dengan menggunakan konjungtor dan. Pada kalimat (2), (3), (4), (5), (6), dan (7) hubungan antarklausa masing-masing ditandai oleh walaupun, sebab, jika, supaya, di mana, dan bahwa.

Hubungan antarklausa dapat juga kita lihat dengan adanya pelesapan bagian dari kalusa, khususnya subjek. Perhatikan contoh yang berikut.

(8)        Engkau harus menjadi orang pintar, harus tetap beribadat supaya mendapat rezeki yang bersih dan halal.

(9)        Mereka duduk, memperhatikan orang yang lalu lalang di muka rumahnya.

(10)    Para anggota kelompok tani duduk dengan tenang di bawah pohon, berusaha mengikuti    penjelasan penyuluh pertanian tersebut.

(11)    Kami akan naik haji sesudah nikah.

Kalimat (8) terdiri atas tiga klausa, yaitu (i) Engkau harus menjadi orang pintar, (ii) (engkau) harus tetap beribadat, dan (iii) (engkau)mendapat rezeki yang bersih dan halal. Subjek ketiga klausa itu sama, yaitu engkau. Klausa pertama dan kedua (bersama klausa ketiga) dipisahkan dengan tanda koma. Klausa kedua dan ketiga dihubungkan oleh konjungtor supaya.

Dalam klaimat (9) subjek kedua klausa itu adalah mereka, sedangkan dalam kalimat (10) subjeknya adalah para anggota kelompok tani itu. Pada kalimat (11) subjek kami juga dihilangkan setelah kata sesudah karena subjek klausa itu sama dengan subjek klausa utamanya. Perlu diperhatikan bahwa dalam ujaran atau bahasa lisan, pembicara umumnya menandai batas kedua klausa itu dengan jeda di antaranya.

 

2.3 Hubungan Koordinasi dan Subordinasi

Kalimat majemuk setara maupunkalimat mejemuk bertingkat mempunyai dua klausa atau lebih yang saling berhubungan. Ada dua cara untuk menghubungkan klausa dalam sebuah kalimat majemuk, yaitu dengan koordinasi dan subordinasi.

 

2.3.1   Hubungan Koordinasi

Koordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih yang masing-masing mempunyai kedudukan yang setara dalam struktur konstituen kalimat. Hasilnya adalah satuan yang sama kedudukannya. Hubungan antara klausa-klausanya tidak menyangkut satuan yang membentuk hierarki karena klausa yang satu bukanlah konstituen dari klausa yang lain. Secara diagramatik hubungan ini dapat dilihat dalam bagan berikut yang memperlihatkan bahwa konjungtor tidak termasuk dalam kalusa mana pun, tetapi merupakan konstituen tersendiri.

 

https://3.bp.blogspot.com/-6rwM6iR9QWs/WNUcIIrfzNI/AAAAAAAAAB0/BUcQlL4byI0-B_SbZ4DYqyi8xffvp2UXwCLcB/s320/Bagan%2B1%2BBlog.png

 

 

Untuk memperjelas bagan di atas, perhatikanlah contoh yang berikut ini.

(1)  Pengurus Dharma Wanita mengunjungi panti asuhan.

(2)  Mereka memberi penghuninya hadiah

(3)  Pengurus Dharma wanita mengunjungi panti asuhan dan mereka memberi penghuninya hadiah.

 

Klausa (1) dan (2) digabungkan dengan cara koordinasi sehingga terbentuklah kalimat majemuk setara (3). Oleh karena klausa-klausa dalam kalimat majemuk yang disusun dengan cara koordinasi mempunyai kedudukan setara atau sama, maka klausa-klausa itu semuanya merupakan klausa utama.

            Sesuai dengan bagan di atas, pembentukan klaimat (3) dapat dijelaskan dalam bagan sebagai berikut.



https://4.bp.blogspot.com/-IHPI8ajE7-4/WNUcILF2LWI/AAAAAAAAAB4/cMaXTzUH0foNjI_bIVZj3vAPoWp85EjWQCEw/s320/Bagan%2B2%2BBlog.png

 

Pada bagan di atas dapa dilihat bahwa kedua klausa utamanya setara. Klausa yang satu bukan merupakan bagian dari klausa yang lainnya: kedua-duanya mempunyai kedudukan yang sama dan dihubungkan oleh konjungtor dan. Selain dan, ada beberapa konjungtor lain untuk menyusun hubungan koordinasi, yaitu atau, tetapi, serta, lalu, kemudian, lagipula, hanya, padahal, sedangkan, baik ... maupun ..., tidak ... tetapi ..., dan bukan(nya) ... melainkan .... Perhatikan beberapa contoh berikut ini.

(1) Anda datang ke rumah saya atau saya datang ke rumah Anda.

(2)  Ia segera masuk ke kamar lalu berganti pakaian.

(3)  Polisi telah memberi tembakan peringatan tetapi penjahat itu tetap tidak mau menyerah.

(4)   Orang tua gadis itu sedih sekali serta kecewa terhadap kelakuan anaknya.

(5)   Saya memberitahukan hal itu kepada anak-anak kemudian segera kembali ke    kantor.

(6)   Koperasi karyawan itu tidak dikelola secara profesional, lagipula modalnya sangat kecil.

(7)   Dia bukannya sakit, melainkan malas saja.

(8)   Mereka tidak marah, hanya kecewa terhadap perlakuannya.

(9)   Dia di kawasan industri, hanya saja dia tidak bekerja di sana.

(10) Siti masih sering pulang malam, atau malah pagi buta.

Konjungtor di atas bersifat koordinatif dan, karenanya, berfungsi sebagai koordinator.

 

2.3.2 Hubungan Subordinasi

Subordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih sehingga terbukti kalimat mejemuk yang salah satu klausanya menjadi bagian dari klausa yang lain. Jadi klausa-klausa dalam kalimat majemuk yang disusun dengan cara subordinasi itu tidak mempunyai kedudukan yang setara. Dengan kata lain, dalam kalimat majemuk yang disusun melalui cara yang subordinatif terdapat klausa yang berfungsi sebagai konstituen klausa yang lain. Hubungan antara klausa-klausa itu bersifat hierarkis. Oleh karena itu, kalimat majemuk yang disusun dengan cara subordinatif itu disebut kalimat majemuk bertingkat. Perhatikan penggabungan klausa dengan cara subordinatif berikut ini.

(1)   Orang tua itu mengatakan (sesuatu).

(2)   Anak gadisnya mencintai pemuda itu sepenuh hati.

(3)   Orang tua itu mengatakan bahwa anak gadisnya mencintai pemuda itu sepenuh hati.

Klausa (1) dan (2) digabungkan dengan cara subordinatif sehingga terbentuk kalimat majemuk bertingkat (3).

Hubungan subordinasi dapat digambarkan sebagai berikut.

 

https://3.bp.blogspot.com/-7PcZvEU08Tc/WNUcIBvmfOI/AAAAAAAAACI/xYcBiiTbBdQm7tRTRAYbPVLivPc3mSFmQCEw/s320/Bagan%2B3%2BBlog.png

 

Dalam bagan di atas dapat dilihat bahwa Klausa 2 berkedudukan sebagai konstituen Klausa 1. Klausa 2 yang berkedudukan sebagai konstituen Klausa 1 disebut klausa subordinatif, sedangkan Klausa 1, tempat dilekatkannya Klausa 2, disebut klausa utama.

Sesuai dengan bagan di atas, pembentukan kalimat majemuk bertingkat (3) dapat disajikan dalam bagan berikut.

https://3.bp.blogspot.com/-pI7VQWVByFg/WNUcI1GK-2I/AAAAAAAAACI/_ascWx290YEXFAcS5e-udcdeBw-vHS0KwCEw/s320/Bagan%2B4%2BBlog.png
 

 

 

 

 

 

 

 

 



Pada bagan itu dapat dilihat bahwa klausa utama orang tua itu mengatakan digabungklan dengan klausa subordinatif anak gadisnya mencintai pemuda itu sepenuh hati dengan menggunakan konjungtor bahwa. Dalam struktur kalimat (3) klausa subordinatif menduduki posisi objek (O). Dengan kata lain, klausa subordinatif itu merupakan klausa nominal karena menduduki fungsi yang biasa diduduki oleh nomina. Selain konjungtor bahwa, klausa nominal yang disubordinasikan dapat pula ditandai oleh konjungtor berupa kata tanya seperti apakah (atau tidak).

(a)   Saya dengar bahwa dia akan berangkat besok.

(b)   Saya tidak yakin apakah dia akan datang (atau tidak).

(c)    Saya tahu di mana anak itu tinggal.

Klausa subordinatif dapat pula berupa klausa adverbial dalam arti klausa itu berfungsi sebagai keterangan. Konjuntor yang digunakan untuk menggabungkan klausa adverbial dengan klausa utama dapat dikelompokkan berdasarkan jenis klausa adverbial sebagai berikut.

a.       Konjungtor Waktu: setelah, sesudah, sebelum, sehabis, sejak, selesai, ketika, tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi, selama, sehingga, sampai

b.      Konjungtor Syarat: jika, kalau, jikalau, asal(kan), bila, manakala

c.       Konjungtor Pengandaian: andaikan, seandainya, andaikata, sekiranya

d.      Konjuntor Tujuan: agar, supaya, biar

e.       Konjungtor Konsesif: biarpun, meski(pun), sungguhpun, sekalipun, walau(pun), kendati(pun)

f.        Konjungtor Pembandingan atau Kemiripan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, bagaikan, laksana, daripada, alih-alih, ibarat

g.      Konjungtor Sebab atau Alasan: sebab, karena, oleh karena

h.      Konjungtor Hasil atau Akibat: sehingga, sampai(-sampai)

i.        Konjungtor Cara: dengan, tanpa

j.        Konjungtor Alat: dengan, tanpa

Perhatikan contoh berikut.

(a) Parttisipasi masyarakat terhadap program keluarga berencana meningkat sesudah mereka menyadari manfaat keluarga kecil.

(b) Jika masyarakat menyadari pentingnya program keluarga berencana, mereka pasti mau berpartisipasi dalam menyukseskan program tersebut.

(c)  Andaikan saya memperoleh kesempatan, saya akan mengerjakan pekerjaan itu sebaik-baiknya.

(d)   Anda harus berusaha dengan sungguh-sungguh agar dapat berhasil dengan baik.

(e)  Meskipun usianya sudah lanjut, semangat belajarnya tidak pernah padam.

(f)  Saya memahami keadaan dirinya sebagaimana ia memahami keadaan diriku.

(g)  Proyek perbaikan kampung kumuh itu berhasil karena mendapat dukungan dari masyarakat.

(h)  Ledakan bom mobil itu demikian hebatnya sehingga meruntuhkan atap gedung-gedung di sekitar kejadian

(i)  Pertani berusaha meningkatkan hasil panenya dengan menggunakan bibit unggul, pemupukan, irigasi, pemberantasan hama, dan penerapan teknologi pascapanen yang tepat.

Kalimat (a) yang mengandung klausa adverbial yang menyatakan waktu dapat digambarkan sebagai berikut.

 

https://1.bp.blogspot.com/-qojjx2qU70U/WNUcI7GExvI/AAAAAAAAACI/8TDFW5e_ypEXZWLy-6oCTx87k-Li_YLHQCEw/s320/Bagan%2B5%2BBlog.png

 

Kalimat majemuk bertingkat dapat pula disusun dengan memperluas salah satu fungsi sintaksisnya (fungsi S, P, O, dan Ket) dengan klausa. Perluasan itu dilakukan dengan menggunakan yang. Perhatikan kalimat-kalimat berikut.

(a)   Paman saya yang tinggal di Bogor meninggal kemarin.

(b)   Paman saya guru, yang mengajar di beberapa sekolah.

(c)   Saya membaca buku yang mengisahkan perjuangan Pengeran Dipenegoro.

(d)   Pemerintah membangun jalan raya di daerah transmigrasi yang menampung transmigran dari Jawa dan Bali.

Dalam kalimat (a) fungsi S (Paman saya) diperluas dengan klausa yang tinggal di Bogor. Dalam kalimat (b) fungsi P (guru), yang merupakan predikat dalam kalimat nominal, diperluas dengan klausa yang mengajar di beberapa sekolah. Dalam kalimat (c) fungsi O (buku) diperluas dengan klausa yang mengisahkan perjuangan Pangeran Dipenogoro. Dalam kalimat (d) fungsi Ket (di daerah transmigrasi) diperluas dengan klausa yang menampung transmigran dari Jawa dan Bali. Klausa perluasan dengan yang yang disematkan dalam klausa utama disebut klausa relatif dan berfungsi sebagai keterangan bagi fungsi sintaksis tertentu.

Kalimat majemuk bertingkat pula terbentuk bila dua proposisi di perbandingkan, satu dinyatakan pada klausa utama dan satunya lagi pada klausa subordinatif. Klausa subordinatif ini disebut klausa perbandingan. Klausa perbandingan biasanya dibentuk dengan menggunakan bentuk lebih atau kurang bersama-sama dengan konjungtor dari(pada), dan sama ... dengan. Perhatikan contoh berikut.

(a)    Dia bekerja lebih lama daripada istrinya (bekerja).

(b)  Saya berbicara kurang fasih dalam bahasa daerah daripada (saya berbicara (fasih)) dalam bahasa Indonesia.

(c)   Kapitalisme sama berbahayanya dengan komunisme (berbahaya).

Perlu dicatat bahwa predikat bekerja  dan keterangan lama pada kalimat (a) pada klausa subordinatif wajib dilesapkan.

 

2.4  Ciri - Ciri Hubungan Koordinasi Dan Subordinasi

2.4.1 Ciri-Ciri Hubungan Koordinasi

1.    Hubungan koordinasi menggabungkan dua klausa yang dihubungkan oleh konjungtor koordinatif dapat berupa kalimat majemuk.

2.    Pada umumnya posisi klausa yang diawali oleh koordinator danatau, dan tetapi tidak dapat diubah. Apabila posisinya diubah, perubahan itu mengakibatkan munculnya kalimat majemuk setara yang tidak berterima.

Contoh:

Dalam pengungsian itu saya sering melihat orang ditembak musuh dan mayatnya dibuang begitu saja

Bila urutan posisi klausa pada kalimat diubah, perubahan itu akan mengakibatkan munculnya kalimat majemuk setara yang tidak berterima.

 

Contoh:

Dan mayatnya dibuang begitu saja, dalam pengungsian itu saya sering melihat orang ditembak musuh

3.    Urutan klausa yang tetap dalam hubungan koordinasi berhubungan erat dengan pronominalisasi.

Contoh:

Dia suka membaca cerpen, tetapi Rina  tidak mau membeli buku itu

4.    Sebuah koordinator dapat didahului oleh koordinator lain untuk memperjelas atau mempertegas hubungan antara kedua klausa yang digabungkan.

Contoh:

Sidang mempertimbangkan usul salah seorang peserta dan kemudian menerimanya dengan sura bulat

Penggunaan koordinator kemudian sesudah koordinator dan, adalah untuk memperjelas gabungan klausa yang menunjukkan hubungan waktu.

 

Hubungan antarklausa yang koordinasi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu:

(1)  Hubungan aditif (jumlah)

Hubungan jumlah ditunjukkan klausa kedua berisikan informasi yang menambahkan isi informasi pada klausa pertama. Kata penghubung yang digunakan adalah dan atau bersama.

- Saya dan Hardi pergi ke sekolah

- Saya bersama teman-teman memancing di laut

Perbedaan antara kata hubung dan dengan bersama adalah kata hubung dan dapat menghubungkan nomina/frasa nomina dan nomina/frasa nominal atau pun verba/frasa verbal dan verba/frasa verbal. Sedangkan kata hubung bersama menghubungkan nomina/frasa nominal dan nomina/frasa nominal

(2)  Hubungan adversatif (pertentangan)

      Hubungan pertentangan biasanya ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan informasi yang bertentangan dengan isi informasi pada klausa pertama. Hubungan pertentangan terdiri atas pertentangan yang menyatakan penguatan, pertentangan yang menyatakan implikasi, dan pertentangan yang menyatakan perluasan.

(a) Hubungan pertentangan yang menyatakan penguatan ditunjukkan oleh klausa kedua yang menyatakan sesuatu yang merupakan pertentangan yang menguatkan dan menandasakan informasi pada klausa pertama.

1. Ia tidak hanya rajin dan pandai, tetapi juga teliti dan rendah hati

2. Penculikan itu tidak hanya menimbulkan marah warga, melainkan juga menimbulkan trauma pada orang tua

(b) Hubungan pertentangan yang menyatakan implikasi ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan pertentangan terhadap implikasi informasi yang dinyatakan oleh klausa pertama.

1. Adikku belum bersekolah, tetapi ia sudah bisa membaca dengan mengeja

2. Aku sudah lama berdagang, tetapi belum juga punya banyak uang

(c) Hubungan pertentangan menyatakan perluasan yang ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan informasi tambahan untuk melengkapi apa yang dinyatakan oleh klausa pertama. Kadang-kadang informasi justru memperlemah klausa pertama.

1.  Budaya daerah harus dijaga, tetapi budaya luar yang baik jangan  ditolak

2. Anak-anak Indonesia harus diajari bahasa Indonesia dengan baik, tetapi bahasa asing perlu juga dikuasai untuk memperluas cakrawala

(3)  Hubungan alternatif (pilihan)

Hubungan pilihan adalah hubungan yang menyatakan pilihan di antara berbagai kemungkinan yang ada yang ditunjukkan oleh klausa yang dihubungkan itu. Hubungan pilihan dapat menyatakan pertentangan, tetapi juga tidak.

(a) Hubungan pilhan yang menyatakan pertentangan

1. Aku terus bersekolah dengan sengsara atau berhenti, lalu mencari uang

2. Kau harus mengatakan kebenaran atau kau harus berbohong dengan mendustai dirimu sendiri

(b) Hubungan pilihan yang tidak menyatakan pertentangan.

1. Dia duduk merenungkan masa lalu ataukah sedang merancang masa dating

2. Kamu datang ke sini mau belajar atau mau main kartu

 

2.4.2  Ciri-Ciri Hubungan Subordinasi

1.    Subordinatif menghubungkan dua klausa yang salah satu di antaranya merupakan bagian dari klausa yang lain. Di samping itu, salah satu klausa yang dihubungkan oleh konjungtor subordinatif dapat pula berupa kalimat majemuk.

Contoh:

Ketua partai itu tetap menyatakan kebanggaannya karena ternyata partainya masih dapat meraih hampir empat belas juta suara pemilih setelah suara itu dihitung ulang.

2.    Pada umumnya posisi klausa yang diawali oleh subordinator dapat berubah.

Contoh:

Para pejuang itu pantang menyerah selama hayat dikandung badan.

Dapat pula menjadi:

Selama hayat di kandung badan, para pejuang itu pantang menyerah.

3.    Hubungan subordinatif memungkinkan adanya acuan kataforis.

Contoh:

Walaupun dia suka lagu keroncong, Budi tidak mau membeli kaset itu.

Hubungan subordinatif antarklausa

(1)  Hubungan sebab

Hubungan sebab terdapat di dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan sebab atau alasan terjadinya apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Kata penghubung yang digunakan adalah sebab, karena, dan oleh karena.

Perhatikan contoh :

1.   Pusat penelitian Kependudukan terpaksa menangguhkan beberapa rencana penelitian karena belum ada tenaga yang siap

2.   Keadaan menjadi genting lagi oleh karena musuh akan melancarkan aksinya lagi di Bandung

(2)  Hubungan akibat

  Hubungan akibat terdapat di dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan akibat dari kejadian atau perbuatan yang dinyatakan dalam klausa utama. Kata penghubung yang digunakan adalah akibat, akibatnya, sehingga, maka dan hasilnya.

Perhatikan contoh :

1.   Kami tidak setuju maka kami protes

2.   Penjelasan diberikan sekedarnya sehingga anak-anak tidak bisa mengerjakan PR

(3)  Hubungan tujuan

Hubungan tujuan terdapat di dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan tujuan dri apa yang disebut oleh klausa pertama. Kata penghubung yang digunakan adalah untuk, demi, agar, supaya dan biar.

Perhatikan contoh :

1.   Saya bekerja sampai malam supaya anak-anak saya dapat melanjutkan sekolahnya.

2.   Saya sengaja tinggal di desa agar dapat mengetahui kehidupan di sana.

(4) Hubungan syarat

Klausa subordinatif kalimat yang menunjukkan hubungan syarat menyatakan syarat terlaksananya apa yang disebutkan oleh klausa pertama. Kata penghubung yang digunakan adalah jika, kalau, jikalau, dan asalkan.

Perhatikan contoh :

1.   Jika anda mau mendengarkannya, saya tentu senang sekali

2.   Ini dilakukannya dalam keadaan darurat kalau waktu sedang mendesak

(5)  Hubungan waktu

Hubungan waktu ditunjukkan oleh klausa koordinatif yang menyatakan waktu terjadinya suatu peristiwa atau keadaan yang disebutkan oleh klausa pertama. Hubungan waktu terbagi menjadi waktu permulaan, waktu bersamaan, waktu berurutan, waktu batas akhir terjadinya peristiwa atau keadaan.

(a)  Waktu batas permulaan

Waktu batas permulaan ditandai oleh kata penghubung sejak atau sedari

Perhatikan contoh:

1.    Saya sudah terbiasa hidup sederhana sejak saya masih kecil

 (b) Waktu bersamaan

Waktu bersamaan ditandai oleh kata penghubung ketika, pada waktu, (se)waktu, serta, seraya, sambil, sementara, selagi, selama, dan tatkala.

Perhatikan contoh :

1.    Debat sengit berlangsung terus selama sidang berlangsung.

2.    Aku tidak mengerti akan hal tersebut ketika aku masih anak-anak.

(c)  Waktu berurutan

Waktu berurutan ditandai oleh kata penghubung sebelum, sehabis, setelah, sesudah, seusai, dan begitu.

Perhatikan contoh :

1.    Ia baru kembali ke desa setelah biaya untuk melanjutkan sekolahnya tidak ada.

2.    Sehabis mengerjakan pekerjaan rumahnya, Adik langsung pergi ke kamar tidur.

(d)  Waktu batas akhir

Waktu batas akhir digunakan untuk menyatakan akhir atau ujung suatu proses. Waktu batas akhir ditandai oleh kata penghubung sampai dan kepada.

Perhatikan contoh :

1.    Gotong-royong berjalan lancer sampai kami menyelesaikan sekolah.

2.    Yanti mengurus adik-adiknya hingga bapaknya pulang kantor

 

 

(6)  Hubungan konsesif

Hubungan konsesif terdapat di dalam kalimat subordinatif yang klausa pertamanya tidak mengubah pernyataan yang terdapat di dalam klausa pertama. Hubungan konsesif biasanya ditandai oleh kata penghubung sungguh (pun), biar (pun), meski (pun), walau (pun), sekali (pun), dan kendati (pun).

Perhatikan contoh:

1.   Walupun hatinya sangat sedih, dia tidak pernah menangis di hadapanku

2.   Perjuangan berjalan terus kendatipun musuh telah menduduki hampir semua kota besar

(7)  Hubungan cara

Hubungan cara ditandai oleh kata penghubung dengan atau tanpa. Klausa subordinatifnya menyatakan cara pelaksanaan sesuatu.

  Perhatikan contoh :

1.   Pemburu itu menunggu diatas bukit kecil dengan jari telunjuknya melekat pada pelatuk senjatanya

2.   Petinju itu mencoba bertahan dengan kedua tangannya menutup muka

(8)  Hubungan kenyataan

Klausa subordinatif pada hubungan kenyataan atau hubungan komplementatif bertugas melengkapi verba atau melengkapi nomina subjek. Subordinator yang dipakai adalah padahal dan sedangkan.

Perhatikan contoh :

1.   Dia pura-pura tidak tahu padahal ia tahu banyak.

2. Ibu sedang memasak, sedangkan Ayah sedang membaca Koran

(9)  Hubungan alat

Hubungan alat terdapat pada kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan alat yang disebutkan oleh klausa utama. Kata penghubung yang digunakan adalah dengan, tidak dengan, memakai, dan menggunakan.

Perhatikan contoh :

1.   Dia menangkap ikan dengan mempergunakan kail

2.   Mereka membersihkan Monas tidak dengan peralatan modern.

(10)  Hubungan perbandingan

Hubungan perbandingan terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatif dan klausa utamanya memiliki unsur yang sama dan tarafnya bersifat sama (ekuatif) atau unurnya sama, tetapi tarafnya berbeda (komparatif).

(a)    Hubungan ekuatif

Hubungan ekuatif mempersyaratkan persamaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. Bentuk persamaan yang digunakan adalah sama+adjektiva+dengan atau se-+adjektiva

Perhatikan contoh :

1.    Gaji istrinya sama besar dengan gaji saya

2.    Rumah itu setua saya.

(b)  Hubungan komparatif

Hubungan komparatif mempersyaratkan perbedaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. Bentuk komparasi yang digunakan adalah lebih/kurang+dari atau lebih/kurang+adjektiva+daripada.

Perhatikan contoh :

1.    Dia kurang mahir berbahasa Inggris daripada anaknya.

2.    Anak saya lebih senang nonton film mandarin daripada kartun.

(11)  Hubungan hasil

Hubungan hasil terdapat di dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan hasil atau akibat dari apa yang dinyatakan oleh klausa utama. Hubungan hasil ditandai oleh kata penghubung sampai, sampai-sampai, sehingga, dan maka.

Perhatikan contoh :

1.    Biaya pengobatannya sungguh mahal sampai-sampai perhiasan istrinya habis terjual

2.    Kami tidak setuju maka kami protes.

(12)  Hubungan atributif

Hubungan atributif ditandai oleh kata penghubung subordinatif yang. Terdapat dua macam hubungan atributif, yaitu atributif restriktif dan atributif takrestriktif. Kalusa dengan yang itu sering juga disebut kalusa relatif.

(a)  Hubungan atributif restriktif

Hubungan seperti ini mewatasi makna nomina yang diterangkannya. Akibatnya, keterangan pewatas itu menjadi bagian integral dari nomina yang diterangkannya itu.

- Istrinya yang tinggal di Bogor berjualan telur

(b) Hubungan atributif takrestriktif

Klausa relatif pada hubungan atributif takrestriktif hanya memberikan tambahan informasi pada nomina yang diterangkannya. Jadi, kalusa relatif itu tidak merupakan keterangan pewatas bagi nomina yang diterangkannya itu. Di dalam bahasa tulis, kalimat dengan klausa relatif yang menjadi keterangan tambahan itu diapit oleh tanda koma.

- Istrinya, yang tinggal di Bogor, berjualan telur

(13) Hubungan andaian

Klausa subordinatif pada hubungan pengandaian berisikian andaian atas sesuatu yang terdapat pada klausa utama. Di dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa jenis andaian, seperti:

(a) Andaian yang tidak mungkin terjadi

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung andai kata, seandainya, dan andaikan.

(b) Andaian yang mungkin terjadi

                Andaian jenis ini biasanya menggunakan kata penghubung pengandaian jika, kalau, jikalau, apabila, dan bilamana.

(c) Andaian yang menggambarkan kekhawatiran

     Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung jangan-jangan.

(d) Andaian yang berhubungan dengan ketidakpastian.

                Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung kalau-kalau.

(14)  Hubungan optatif

Klausa utama kalimat majemuk yang berisikan hubungan optatif menyatakan harapan agar apa yang ada pada klausa subordinatif dapat terjadi. Kata penghubung yang digunakan adalah agar, semoga, moga-moga, dan mudah-mudahan.

Kita berdoa mudah-mudahan pertemuan ini cepat selesai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

3.1 Simpulan

 

            Hubungan koordinasi  adalah menggabungkan dua klausa atau lebih yang masing-masing mempunyai kedudukan yang sama atau sederajat dalam struktur konstituen kalimat. Hubungan koordinasi mempunyai empat cirri sintaksis yaitu: menggabungkan dua klausa atau lebih, posisi klausa diawali oleh konjungtor dan, atau, dan tetapi, urutan klausa yang tetap, dan dapat didahului oleh konjungtor lain.

            Subordinatif menggabungkan dua klausa atau lebih sehingga klausa yang satu menjadi bagian klausa lain. Jadi klausa-klausa dalam kalimat majemuk yang disusun secara subordinatif tidak mempunyai kedudukan setara. Dengan kata lain, dalam kalimat majemuk yang disusun secara subordinatif terdapat kalusa yang berfungsi sebagai konstituen klausa lain. Artinya terdapat klausa utama dan klausa bawahan. Hubungan antara klausa-klausa ini bersifat hirarkis. Oleh karena itu, kalimat majemuk yang disusun secara subordinatif itu disebut kalimat majemuk bertingkat.

 

 

3.2 Saran

Kelonggaran dalam penggunaan bahasa yang berfungsi hanya sebatas sarana ujaran cenderung memberi dampak kesembarangan dalam penggunaan bahasa. Oleh karena itu, sudah selayaknya semua warga Indonesia mempelajari tata bahasa baku bahasa Indonesia untuk melestarikan penggunaan bahasa Indonesia yang benar sebagai identitas bangsa.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Alwi, Hasan, A.M. Moeliono.2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Chaer, Abdul. 2011. Ragam Bahasa Ilmiah, Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa.2007. Kamus Besar Bahasa  Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Parera, J.D. 2009. Dasar-Dasar Analisis Sintaksis. Penerbit Erlangga Jakarta: PT Gelora Aksara.

 

 

 

 


Post a Comment

0 Comments