Advertisement

Main Ad

 

KEKUATAN TRADISI LOKAL MASYARAKAT INDONESIA “ANALISIS 5 CERPEN DALAM PILIHAN KOMPAS TANAH AIR DENGAN PENDEKATAN SOSIOLOGI




OLEH : IHROM MAULANA




1.      PENDAHULUAN

Peristiwa yang terjadi dalam kelompok masyarakat menjadi suatu hal yang menarik bagi pengarang untuk dijadikan sebuah karya sastra. Sastrawan sebagai pencipta karya sastra akan selalu terlibat dengan keresahan permasalahan sosial yang terjadi dimasyarakat seperti tradisi, norma, symbol dan mitos. karya sastra dapat menggambarkan dan mereflesikan kehidupan sosial masyarakat (Wellek dan Werren 1995: 109). Melalui daya kreasi dan imajinasi pengarang dapat menciptakan karya sastra yang menarik dengan tetap menggambarkan fakta sosial yang terkadi di masyarakat. Kemudian karya sastra tersebut dapat bermanfaat untuk mengajak pembaca melihat, merasakan dan menghayati budaya dan tradisi dimasyarakat melalui sebuah karya sastra.

Karya sastra merupakan karya imajinatif banyak memiliki ragam bentuk salah satunya ialah cerpen. Cerpen merupakan ragam prosa fiksi berupa narasi atau karangan bebas bedengan jumlah kata dan halaman yang relatif singkat serta mengandung alur yang terbatas. Cerpen juga bisa saja berisi keseluruhan kisah kehidupan yang diceritakan secara ringkas dan berfokus pada suatu tokoh tertentu saja (Nurhayati, 2019: 116). Cerpen-cerpen yang dibuat oleh pengarang sering mengangkat fenomena tradisi dalam kehidupan masayrakat. Seperti yang kita ketahui masyarakat Indonesia memiliki latar belakang tradisi yang berbeda-beda. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengarang untuk mengangkat dalam sebuah karya sastra.

Berbicara tentang tradisi maka kita akan membahas tentang kebiasaan interaksi sosial dalam suatu masyarakat. Menurut ensklopedia adat merupakan kebiasaan atau tradisi masyarakat yang telah dilakukan berulang kali secara turun termurun. Artinya bahwa tradisi merupakan kebiasaan yang diwarisan turun temurun oleh nenek moyang kepada generasi berikutnya. Sedangkan menurut khazanah Bahasa Indonesia, tradisi berarti segala sesuatu seperti adat, kebiasaan, ajaran dan sebagainya dan turun temurun dari nenek moyang. Tradisi menurut termologi berarti mengandung pengertian sesuatu yang diwariskan masalalu tetapi tetapi masih terwujud dan berfungsi pada masa sekrang.

Dapat dikatakan bahwa tradisi merupakan warisan dari masalalu yang masih digunakan, difungsikan, dijalankan dan dipercaya hingga saat ini. Tradisi dapat mengatur manusia dengan manusia lainya, mengatur tindakan manusia dengan lingkunganya, dan mengatur manusia dengan alam lain. Segala tindakan dalam masyarakat tersebut dapat berupa nilai, norma sosial, pola kelakuan, adat istiadat dan segala aspek kehidupan yang mengatur dan sanksi terhadap pelanggaran dan penyimpangan. Tingkah laku dalam tradisi masyrakat tidak hanya bersifat duniawi akan tetapi bisa bersifat ghaib mapun keagamaan.

Tradisi selalu melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir setiap daerah local masyarakat Indonesia mempunyai kekayaan tradisi. Seiring perkembangan zaman tradisi-tradisi tersebut masih dipergunakan dan diyakini oleh masyarakat. Namun, Sebagian masyarakat sudah tidak lagi melaksanakan tradisi.

Membuat cerpen dengan tema tradisi mungkin menjadi hal yang manarik bagi pembaca karena akan menambah pengetahuan tentang tradisi dan juga nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Fokus utama artikel ini yaitu membahas bagaiaman masyarakat percaya tentang tradisi local? bagaimana masyarakat mensikapi tradisi local? Bagaimana perilaku masyarakat dengan tradisi?

Masyarakat dewasa ini masih memercayai tradisi dan tidak jarang juga mengesampingkan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Menurut Maharani (2010) Kepercayaan adalah keyakinan satu pihak pada reliabilitas, durabilitas, dan integritas pihak lain dalam relationship dan keyakinan bahwa tindakannya merupakan kepentingan yang paling baik dan akan menghasilkan hasil positif bagi pihak yang dipercaya.

 Masyarakat memiliki pandangan berbeda berkenaan dengan tradisi. Dalam hal ini sikap masyarakat trdasi tentu beragam. Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon.

Kecenderungan pandangan itu mengakibatkan berbeda juga perilaku masyarakat tentang tradisi yang ada. Menurut Rakhmat (1992 :39) Sikap adalah kecenderungan seseorang untuk bisa bertindak, berpikir dan juga merasa bahwa dirinya paling baik dalam menghadapi objek, ide dan juga situasi ataupun nilai. Sikap bukanlah perilaku menurut Jalaluddin namun kecenderungan untuk perilaku dengan menggunakan metode tertentu saja terhadap objek sikap. Objek sendiri bisa berbentuk apa saja yakni orang, tempat, gagasan, ataupun situasi dalam kelompok.

Untuk menjawab permasalahan tersebut penulis akan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Karya sastra dapat dilihat dari segi sosiologi dengan mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan. Segi-segi kemasyarakatan menyangkut manusia dengan lingkungannya, struktur masyarakat, lembaga, dan proses sosial (Darmono, 2003)

Pengarang menyajikan sebuah cerita dengan imajinasinya berdassarkan fenomena tradisi yang terjadi dimasyarakat. Sudut pandang penceritaan pengarang menentukan kualitas cerita yang dihasilkan. Gagasan pengarang tidak hanya berupa gagasan imajinasi melainkan fakta sosial terjadi dimasyarakat. Dalam hal ini tradisi dimasyarakat Indonesia. Gaya penceritaan pengarang yang menggambarkan sebuah tradisi lisan dalam sebuah karya sastra cerpen menajadi hal menarik untuk dibahas. Dalam hal ini pengarang mengangkat isu konflik tradisi seperti aturan-aturan tradisi masyarakat yang menyimpang dari kebiasaan adat, peristiwa tradisi masayrakat tentang hal yang bersifat ghaib maupun agama. Pengarang sangat jeli melihat fenomena itu sehingga dapat menjadi cerpen yang sangat menarik.

Fokus perhatian sosiologi karya sastra adalah pada isi karya sastra, tujuan serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial (Wellek dan Warren, 1994). Sedangkan telaah sosiologi sastra menurut wallek dan wareen memiliki tiga klasifikasi. Diantaranya, a) Sosiologi pengarang: yakni yang mempermasalahkan tentang status sosial, idiologi politik, dan lain-lain yang menyangkut status pengarang. b) Sosiologi karya sastra: yakni mempermasalahkan tentang suatu karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya, c) Sosiologi sastra: yakni mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.

Sedangkan menurut Junus (1986:3-5), sosiologi karya sastra yang melihat karya sastra sebagai dokumen sosial budaya ditandai oleh: (1) unsur (isi/cerita) dalam karya diambil terlepas dari hubungannya dengan unsur lain.Unsur tersebut secara langsung dihubungkan dengan suatu unsur sosio budaya karena karya itu hanya memindahkan unsur itu ke dalam dirinya. (2) Pendekatan ini dapat mengambil citra tentang sesuatu, misalnya tentang perempuan, lelaki, orang asing, tradisi, dunia modem, dan lain-lain, dalam suatu karya sastra atau dalam beberapa karya yang mungkin dilihat dalam perspektif perkembangan. (3) Pendekatan ini dapat mengambil motif atau tema yang terdapat dalam karya sastra dalam hubungannya dengan kenyataan di luar karya sastra.

Pada Jurnal penelitian Ira Rahayu “Gelap Diantara Teranga Warna Lokal Masyarakat Pesisir Cirebon Sebuah Analisis Cerpen Karya Asbdul Majid” dalam jurnal DEIKES, Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon. Menjelaskan bahwa cerpen karya asbdul majid mereflesikan kehidupan tradisi dan warna local masyarakat di wilayah pesisir pantai utara di kota Cirebon. Realitas sosial masayrakat dan lingkungan local dapat diangkat menjadi sebuah karya sastra yang menarik dengan tidak menghilangkan fakta sosial yang terjadi dimasyarakat. Artinya karya sastra yang diciptakan pengarang sesuai apa yang ada dalam kehidupan nyata dalam kelompok masayarakat.

Akhirnya penulis menyimpulkan bahwa cerpen kompas edisi 2016 yang berjudul “tanah air” akan dilakukan analisis dengan pendekatan sosiologi sastra dan menggunakan metode riset yitu metode deskriptif analitik.

 

2.      Metode Riset

Metode penelitian merupakan cara yang digunakan penulis dalam melakukan penelitian terhadap suatu objek yang diteliti. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu metode penelitian deskriptif analitik. Metode tersebut digunakan karena relevan dengan konsep penelitian kualitatif. Metode deskriptif analitik merupakan metode penelitian yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan data yang dihasilkan ke dalam bentuk uraian naratif. Metode deskriptif analitik adalah metode yang berupa pemaparan gambaran mengenai situasi yang diteliti dalam bentuk uraian narasi. Uraian narasi tersebut harus sistemik sebagai satu kesatuan dalam konteks lingkungannya, dan sistemik dalam penuangannya sehingga urutan-urutan pemaparan logis dan mudah diikuti maknanya.” (Sudjana, 2012: 197-198).

Penelitian memerlukan prosedur sebagai langkah yang harus dilakukan. Menurut Sudjana dan Ibrahim, (2014: 65-68) metode deskriptif analitik memiliki prosedur, yakni: merumuskan masalah, menguraikan data penelitian, mengolah informasi atau data, dan menarik kesimpulan penelitian.

a)      Prosedur penelitian

Berdasarkan keempat langkah metode deskriptif analitik, penulis merancang proses penelitian sebagai berikut.

1.    Merumuskan Masalah

Merumuskan masalah merupakan tahap untuk mengumpulkan data. Pengumpulan data dilakukan dari hasil membaca cepen. Berdasarkan penumpulan data penulis mengumpulkan 5 data teks cerpen dari sumber data kumpulan cepen kompas tahun 2016 yang berjudul “Tanah Air”. Data tersebut ditentukan berdasakan kesesuaian dengan isu yang dibahas oleh penulis berkaitan tradisi lisan masayrakat Indonesia.

2.    Menguraikan Data

Pada tahap kedua, penulis menguraikan dan mendeskripsikan data dalam bentuk uraian naratif.  Dari 5 data cerpen yang ditentukan kemudian cerpen tersebut diuraikan dan dideskripsikan berdasarkan hasil temuan-temuan yang ada dalam teks cerpen.

3.    Informasi Data Mengolah

Pada tahap ini, peneliti mulai mengolah data dengan melakukan analisis data dari temuan-temuan yang diperoleh kemudian diuraikan secara naratif.  Artinya,  hasil analisis yang dilakukan berupa pemaparan tentang objek yang diteliti.

4.    Menarik Kesimpulan

Pada tahap keempat, penulis menemukan konsep-konsep bemakna berdasarkan data yang telah dianalisis. Tahap ini berupa kesimpulan dari data cerpen yang sudah dianalisis berdasakan pendekatan sosiologi sastra.

 

b)     Data dan sumber data.

Dalam artikel ini terdapat data dan sumber data. Data penelitian adalah teks cerpen. isi cerita yang ada pada teks cerpen tersebut dianalisis dan diuraikan. Data teks cerpen diantaranya sebagai berikut.

1.       Cerepen “Roh Meratus” Karya Zaidinoor: Dimuat pada Tanah Air.

2.       Cerpen “Terumbu Tuang Istri” Karya Made Andina

3.       Cerpen “Perempuan Pencemburu” Karya Gede Aryantha Soethama

4.        Cerpen “Belis Si Mas Kawin” Karya Karya FannyJ Poyk

5.       Cerpen “Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon” Karya Faisal Oddang

 

Sedangkan sumber data adalah 5 cerpen yang dimuat pada harian Kompas tahun 2016 yang berjudul “Tanah Air”. Semua sumber data pada cerpen dianalisis berdasarkan peristiwa tradisi yang terdapat dalam cerpen dengan fokus bagaimana kekuatan tradisi dalam kehidupan sosial masyarakat sehinga percaya untuk melakukan tradisi tersebut. Bagaimana masyarakat mensikapi tradisi local, dan bagaimana perilaku masyarakat terhadap tradisi yang ada. Kemudian hasil analisis ditentukan temuan-temuanya berdasarkan fokus analisis.

 

3.      Temuan

a)      CERPEN “ROH MERATUS” KARYA ZAEDINOOR

Cerpen Roh Meratus adalah cerpen yang mengisahkan tentang seorang pekerja dipegunungan Meratus.

“Pekerjaanya Cukup Mudah. Selama empat tahun tugas kami hanya memasang patok batas lahan yang akan dibuka. Selain itu kami harus menandai tanda silang pohon-pohon yang berdiameter tertentu di Kawasan tersebut”.

“Baru setahun berada di Meratus. Mamat, salah satu anggota tim mendadak sakit. Awalnya meriang biasa, tiga hari kemudian mamat meninggal dunia. Tahun kedua kharis juga mengalami hal yang serupa. Ia juga tewas dalam keadaan menderita. Dan pada akhir tahun ketga ini Rojik yang kami kuburkan. Sekarang hanya tinggal berdua. Tahun keempat tahun keempat hanya tinggal beberapa hari lagi.  Apakah ini berarti yang akan mati hanya anatara Aku dan Budir? menakutkan sekali.

Kematian para pekerja itu menurut tetua adat karena kutukan roh Meratus yang merasa terganggu akibat para pekerja itu menandai pohon-pohon besar di pegunungan Meratus.

            “Tetua Memandangku yang berdiri terpaku “Roh Meratus” katanya seperti berdesis. Aku berbedik ngeri. Ia kemudia berdiri perlahan. Mendekatiku yang masih terpaku. Entah mengapa aku tertunduk manakala mata kami saling bertumpuk. “kau salah satu dari orang-orang yang kabarnya memberikan tanda silang pohon-pohon besar di hutan sana?” tanya tetua”.

Menurut mitos setempat kutukan roh Meratus dapat sembuh jika diberikan obat yaitu Ular Tadung.

“kau sudah terkena roh Meratu! Kata sang tetua. Deg! Jantungku terasa terhenti. “A… apakah aku akan mati? Aku bertanya terbata. Jika beruntung kau msih punya waktu beberapa jam lagi sebelum nasibmu sama dengan teman-temanmu itu, katanya sambal memandang mayat budir yang masih di teras”.

“kita harus mencari ular tadung , yang berkeliaran searah matahari terbit, hanya itu satu-satunya peluangmu untuk selamat.”

“Masih memegang air cepat mendidih. Tangan kirinya memegang panic dari dalam butah. Ia juga menyalakan api. Semuanya dilakukan dengan cepat. Api menyala ia mengambil air di pancur dengan panic dan langsung merebusnya. Saat air menggelagak di panic, tetua berkata pelan. “Ular, izinkan aku merebusmu hidup-hidup. Harap kau Himung” karena akan dijadikan tetamba”.

“Selesai berujar tetua langsung memasukkan uang itu dalam air yang mendidi. Di dalam panic ular menggeliat berontak. Dalam pandanganku yang berkunang-kunang. Badan ular itu membesar dan memerah jambu di dalam panic. Ular itu menang!”

““Minumlah ini kalau kau ingin selamat!” perintah tetua tegas sambal menyodorkan air seduhan ular tadi dengan sendok kayu. Tampa memedulikan rasa jijik, segera sendok demi sendok ku regu. Pada sendok keempa, ada hawa hangat menjalar ke tubuhku. Keringat mulai mengucur aku merasa ringan. Sendok di tangan tetua langsung ku ambil. Segera aku menyeduh dan meminum sendir, kali ini tak kuhitung lagi berapa sendok yang ku tengguk.”

Kami kembali berjalan pulang. Kondisiku sepenuhnya normal.

“kau tau anak muda, tempat ini merasa terancam dengan keberadaan…” tertua menghentikan langkahnya dan mengambil sesuatu dalam butah. “Roh Maratus meniupkan wisa ke tubuh kalian, saying kawan-kawanku yang lain terlambat,”

Akhirnya hanya tokoh aku yang bisa sembuh. Kemudian, tokoh aku menyadari kesalahanya karena ia telah mendaipohon besar yang kemudian akan di tebang oleh alat berat. 

Berdasarkan hasil temuan tradisi local yang mucul berkenaan dengan tradisi yang mengatur manusia dengan alam atau lingkungan yang bersifat ghaib. Masyarakat local percaya tentang adanya roh ghaib penunggu pegunungan Meratus di Kalimantan yaitu “Roh Meratus”. Jika terjadi berbagai hal berkaitan dengan hutan di pegunungan Meratus seperti sakit dan kematian. Maka tradisi masyarakat local menyebut telah mendapat kutukan dari penunggu pegunungan yaitu “Roh Meratus.

“Kau sudah terkena roh Meratu! Kata sang tetua. Deg! Jantungku terasa terhenti. “A… apakah aku akan mati? Aku bertanya terbata. Jika beruntung kau msih punya waktu beberapa jam lagi sebelum nasibmu sama dengan teman-temanmu itu, katanya sambal memandang mayat budir yang masih di teras.”

“kita harus mencari ular tadung, yang berkeliaran searah matahari terbit, hanya itu satu-satunya peluangmu untuk selamat.”

Sikap masayrakat yang tergambar dalam cerpen “Roh Meratus” ialah tokoh bersikap menerima dan menaati adanya tradisi mitos kepercayaan tentang Roh Meratus. Tokoh aku merespons tradisi dan mitos kepercayaan meratus dengan sikap menyetujui ketentuan dan aturan yang diberikan oleh tetua adat. Seperti menerima diberikan tetamba ular tadung. Tokoh aku memiliki sikap mengahragai tetua adat. Serta tokoh aku memiliki sikap tanggung jawab dan mengakui kesalahan karna telah mengganggu Roh Meratus dengan menandai pohon-pohon besar. Tradisi mempengaruhi perilaku masyarakat dengan adanya tradisi tersebut masyarakat lebih mencintai alam dan lingkungan mereka seperti pada tokoh aku yang akhirnya dia menyadari kesalahan karna telah melanggar tradisi mitos di wilayah pegunungan Meratus. Jadi tradisi masih mempengaruhi perilaku dan sikap masayrakat.

b)      CERPEN “TERUMBU TULANG ISTRI” KARYA MADE ANDINA

Cerpen ini menceritakan tentang tokoh kayan yang hidup di sebuah pedesaan wisata bahari di Pelabuhan utara pulau bali. Konfliknya adalah kayan menjadi korban pedopelia oleh turis asal italia yang bernama Mario. Kemudian Mario ditangkap polisi. Kayan dijauhi oleh teman-temanya krena terkena karena korban pedopilia.

“Malam ketika angin laut sangat dingin, vila Mario di datangi oleh polisi dan dua pecalang. Mario sedang dipijat oleh kayan ketika pintu kamar dipukul dari luar. Kayan membuka pintu. Polisi meminta Mario memakai baju. Lalu digiring ke markas sektor”.

“Besoknya kayan Bersama ayahnya dipanggil polisi. Di markas sektor ia mendengar beberapa kali kata pedopilia.  Kayan tak mengerti sama sekali. Selain ditanya polisi, kayan diajak ke rumah sakit. Beberpa bagian tubuhnya diperiksa, termasuk dubur dan kelamin”.

“Enam bulan, rangkaian waktu dilewati kayan dengan rasa unik dan aneh. Ia jadi pemurung. Sekolah putus, dijauhi temanya, disindir para orang tua. Ia lebih suka ke hutan, menyambit rumput dan memangkas ranting serta daun gamal pakan sapi”.

Tokoh kayan melanggar ketentua adat karena berhubungan seks dengan sapi. akhirnya Kayan dijatuhi hukuman karena melanggar adat setempat. Masyarakat melakukan Upacara guru piduka di gelar sebagai bentuk permintaan maaf pada dewa-dewa agar desa dan warganya selamat tak kena amarah

“Kayan selalu teringat Mario ketika jemari kecilnya melihat lekuk badan sapi. Kadang perasaan aneh menekan didada saat sapi itu menggeliat dan melenguh perlahan. Seperti kayan menahan sesuatu dengan rasa gelisah.dan ia menahan panas dengan sekuat tenaga”.

“Namun disuatu senja, ketika gerimis menciptkan sesuatu yang aneh disebuah daun talas dekat kendang, seseorang memergoki kayan tampa pakaian. Kakinya menginjak keranjang rumput dan setengah badanya telungkup di punggung sapi”.

“Ia dilaporkan oleh pengurus adat. Atas nama rapat adat, kayan dan sapi betina dikawinkan dalam satu upacara dengan saksi seluruh warga adat, di perempatan desa, di pantai, dan di tengah laut”.

“Ratusan warga mengurungnya. Upacara guru piduka digelar sebagai bentuk permintaan maaf pada dewa-dewa agar warga desa selamat dan tidak kena amarah. Di upacara kayan duduk sebagai terdakwa. Ia didakwa memuat desa menjadi leteh, kotor, dan hina-dina sehingga dewa bisa marah. Jika dewa marah bencana dan penyakit bisa datang dengan mudah”.

“Usai upacara guru piduka, kayan dan istrinya dibuatkan upacara pernikahan. Ia dan istri digiring ramai-ramai kepermpatan desa, diudukan di atas debu jalanan. Istrinya tak bisa duduk dan tetap berdiri dengan kaki gemetar. Kayan dan istri digiring ke tepi pantai, diirigi gamelan belaganjur dan kidung suci. Tubuh kayan dibalut pakaian putih. Tubuh istrinya dilingkari kain putih”.

“Ditepi pantai kayan dan istrinya di gotong ke perahu. Kayan sempat menolak. Tapi warga adat menggotongkanya dengan paksa. Gamelan bertalu perahu yang dinaiki kayandan istrinya meluncur ke laut. Dibelakangnya ikut dua perahu mengangkut sesaji. Dan sejumlah tetua adat beriringan ke tengah laut”.

“Pada satu titik di tengah laut, perahu berhenti. Istri digantungi pemberat dari batu besar. Untuk kemudian ditenggelamkan. Air mata kayan meleleh. Istrinya meront, namun batu berat menariknya dengan cepat ke dasar laut. 

Kayan merasa sangat sedih karena sapi atau istrinya telah ditenggelamkan. Hampir setiap pagi hari ia berkunjung ke istrinya dengan perahu dan menyelam melihat kerangka tulang istrinya.

“Jelang cahaya, kayan keluar pondok, menyapa dingin, menghirup asin, menuju pantai. Ia lepas perahu dari ikatan. Meloncat naik dan menyatulah perahu menuju lapang lautan. Di tengah laut ketika cahaya menyelip di bawah gelombang. Tubuh kayan terlontar di bawah perahu:.

“Tubuhnya melesat mengikuti cahaya hingga ke dasar. Di dasar laut ia menemui sesosok tulang rangka yang dipenuhi terumbu karang dan dikitari ikan warna-warni. Didepan tulang rangka ia bersimpuh sebelum mengelusnya dari ujung ke ujung tengkorak kepala hingga ke ujung tulang belakang dengan kasih sayang meluap-luap”.

“Setiap pagi ketika matahari baru muncul di langit timur ia menemui rangka itu. Sekuat napas menyelam ia elus, lalu ia naik ke permukaan. Mencari perahu yang kadang terapung jauh dari tempat ia menyelam”.

Hasil temuan cerpen itu mengisahkan budaya masyarakat Hindu di Bali. Tradisi lokal cerpen tersebut berkaitan dengan tradisi berhubungan dengan norma, aturan masayrakat adat setempat. Jika masyrakat melanggar norma dan aturan kelompok masyarakat, maka akan dihukum sesuai ketentuan kelompok masyarakat/ adat isdiadat setempat. Dalam hal ini, tokoh cerpen “Kayan” melanggar norma dan aturan masyarakat. sehingga menurut kepercayaan tradisi lokal, harus diadakan upacara tradisi sesuai ketentuan rapat agar dewa tidak marah/murka dan tidak mendatangkan wabah dan penyakit. Tradisi yang ada dalam cerpen itu ialah tradissi masyarakat hindu Bali yang sering melaksanakan upacara seperti Guru Piduka yaitu tradisi kepercayaan hindu sebagai bentuk minta maaf dengan dewa. Terdapat tradisi mengarak sesaji ke laut dengan di temani gamelan yang menyuarakan kidung suci. Serta ada tradisi perkawinan yang diarak ke kampung dengan balutan kain putih. Masyarakat masih mempercai dan menjakan tradisi itu.

“Ratusan warga mengurungnya. Upacara guru piduka digelar sebagai bentuk permintaan maaf pada dewa-dewa agar warga desa selamat dan tidak kena amarah. Di upacara kayan duduk sebagai terdakwa. Ia didakwa memuat desa menjadi leteh, kotor, dan hina-dina sehingga dewa bisa marah. Jika dewa marah bencana dan penyakit bisa datang dengan mudah”.

“Usai upacara guru piduka, kayan dan istrinya dibuatkan upacara pernikahan. Ia dan istri digiring ramai-ramai kepermpatan desa, diudukan di atas debu jalanan. Istrinya tak bisa duduk dan tetap berdiri dengan kaki gemetar. Kayan dan istri digiring ke tepi pantai, diirigi gamelan belaganjur dan kidung suci. Tubuh kayan dibalut pakaian putih. Tubuh istrinya dilingkari kain putih”.

“Ditepi pantai kayan dan istrinya di gotong ke perahu. Kayan sempat menolak. Tapi warga adat menggotongkanya dengan paksa. Gamelan bertalu perahu yang dinaiki kayandan istrinya meluncur ke laut. Dibelakangnya ikut dua perahu mengangkut sesaji. Dan sejumlah tetua adat beriringan ke tengah laut”.

Masyarakat lokal wilayah bali mensikapi tradisi tradisi local dengan menerima dan menaati aturan dan norma adat istiadat tradisi. Tokoh kayan merespons pelanggaran norma dan aturan tradisi itu dengan sikap menyetujui ketentuan dan aturan yang diberikan oleh ketua adat. Seperti menerima untuk dilakukan upacara adat Guru Piduka. Tokoh kayan memiliki sikap tanggung jawab dan mengakui kesalahan dan kesediaanya dalam melakukan upacara perkawinan dengan sang istri yaitu sapi. Tradisi mempengaruhi sikap masyarakat karena berkat tradisi terjadi aturan-aturan dan norma dalam bertindak di masyarakat seperti pada carpet “Terumbu Tulang Istri. Trradisi mempengaruhi Tindakan tokoh. Melalui aturan dan norma dalam tradisi tersebut sseorang masyarakat dapat menyesuaiakan hidupnya sesuai norma yang berlaku di masayrakat. Seperti pada cerpen bahwa tradisi mempengaruhi perilaku dalam Tindakan yang dilakukan masyrarakat seperti Tindakan melakukan berbagai upacara sebagai sanksi karena ada yang melanggar norma dan tradisi masyarakat.

 

c)      CERPEN “PEREMPUAN PENCEMBURU” KARYA GDE ARYANTHA SOETHAMA.

Cerpen ini mengisahkan tentang seorang perempuan yang cemburuan terhadap suaminya. Suaminya berprofesi sebagai seorang pengajar. Suatu Ketika suaminya pergi ke perpustakaan kemudian istrinya sangat curiga dan cemburu menanyakan dengan siapa perginya. Sampai ia memeriksa tas suami dan bahkan memasang GPS ke dalam tas suami bahkan sering ke motor suami.

“Jadi kamu ke perpustakaan di balai kota sepulang mengajar tadi?” Selidiknya.  “iya, jadi, kenapa?”  “Benar Cuma ke perpustakaan?”

“Aku sempat ke toko buku, boncengan bersama teman guru.” “guru perempuan kan? Iya kan, perempuan?”

Lelaki itu beringsut masuk kamar, merebahkan diri kedipan.  Perempuan itu memburunya berdiri di depan pintu. “Jujur saja kenapa sih? Perempuan kan?”

 

“lelak itu menutup kepala dengan bantal. Ia acap bingung bagaimana akhirnya ia terperangkap dalam kurungan seorang perempuan dan pencemburu berat”.

 

“Setahun ia pension ia meninggal karena radang paru-paru. Orang-orang menduga ia mati karena disergap kematian. Dikoyak sunyi karena tidak lagi mengajar di depan kelas. Hanya laki-laki itu yang tahu, ia mati karena tak sanggup melawan kuasa cemburu istrinya.”

Bahkan perempuan itu tetap cemburu kendati jasad laki-laki itu diaben dan abunya di bubuang. Ia yakin, setelah menjadi atman suaminya akan tinggal di alam Nir, wilayah yang dihuni banyak sekali roh cantik. Penuh korban gairah, siap menggoda suaminya. “aku harus ke sana” kata hati perempuan itu mendesak-desak. Tapi untuk ke nir harus mati baik-baik.

Beruntung perempuan itu memiliki ilmu Batas Tidur yang ia resapi di padukuhan Astungkara, di turunkan oleh Guru Tung.  Hujan turun lebat ketika perempuan itu tiba di Nir. Perempua itu menerobos hujan dan mencaro suaminya. Cmburu berputar cepat dalam dadanya bagai hendak merontokan jantung, ketika ia melihat seseorang separo baya menjinjing buku catatan. Pipi orang itu gembur, berkuncir, dengan rahang bawah terdorong ke depan dan jidat menonjol, ia mendekati laki-laki itu, mencangkupkan tangan di dada.

 

Akhirnya sang istri itu bertemu dengan seorang paruh baya dengan membawa buku catatan, Perempuan itu bertanya keberadaan suaminya ke seseorang itu. Dan katanya suaminya sudah turun kebumi, kemudian perempuan itu ingin menyusul suaminya lagi ke bumi. Dan seseorang pencatat amal pun mengizinkan lagi untuk kebumi.akan tetapi perempuan itu berbeda kedudukan dengan suaminya. Suaminya kedudukanya lebih tinggi menjadi seorang guru dan perempuan itu menjadi pembantu. Kemudain setelah dibumi ia tetap saja menjadi pencemburu. Bahkan, ia meracuni istri dari laki-laki itu dia alam nir, perempuan itu menjadi berbincangan diantara para pencatat atman. Ia menimbang hukuman yang pantas untuk perempuan itu.

“Bolehkah hamba menanyakan keberadaan seseorang?” hamba baru sampai ingin mengetahui keberadaan suami hamba yang datang ke Nir sebulan yang lalu”. “perempuan itu menyebut hari kematian suaminya, mejelaskan ciri-cirinya, penyebab kematianya, untuk dicocokan dengan catatan yang dibawa si pipi gembul”

“wah-wah belum sejam lalu suamimu menitis ke Bumi.” Ujar si Pipi Gembul setelah memeriksa catatan. Perempuan itu tercengang. “Begitu cepat? Adakah sesuatu yang mengharuskan ia menitis segera? Dia adalah roh yang baik, belum waktunya ia berada di Nir. Bumi membutuhkanya.”

Boleh saya tahu dimana ia meritis, jadi apa? Dia akan menyempurnakan baktinya menjadi guru, di kota yang dipenuhi berbagai suku bangsa.” “Mohon ampun hamba lancang, bolehkah hamba segera menyusul dia?” si pipi gembul tersenyum. “ini demi kesetiaan atau….” “Hamba bersumpah akan selalu merawatnya, kemanapun dia pergi.” “Merawat atau menjaga? Karena setia atau cemburu? Si Pipi gembul terkekeh. Perempuan itu melengos malu, tapi ia bahagia karena diperkenankan Kembali ke bumi segera, padahal belum separo hari di nir. “tapi kedudukan dan martabatmu akan berbeda dengan dia.” “Tidak apa-apa yang penting kami ditakdirkan untuk selalu berdekatan dan bersama.”

“Ibu tak baik kalu bermseraan dengan bapak.” Protesnya kepada si Istri suatu saat ketika menyipakan sarapan. Tentu istri heran dan merasa itu hanya guyonan belaka. “Memang kenapa? Kamu iri ya? Hi…hii..hiii..”

Dia merasa si istri menjadi penghalang untuk memiliki lelaki guru itu. Dia bertekat melenyapkanya agar dia terbebas dari cemburu. Sudah dia pilih cara paling jitu: meracun. Racun itu ia tuangkan ke dalam kopi-susu yang ia hidangkan buat perempuan karyawan bank itu setiap sarapan. Dicampur setengah sendok teh madu untuk menyamarkan rasa. Dua bulan kemudian ia meninggal. Dokter mendiagnosa ia menderita kangker pangkreas. Tentu yang paling girang adalah perempuan pembantu rumah tangga itu. Kini ia mencengkrang nasib sang guru. Tapi cemburunya tetap meledak-ledak.

Suatu hari perempuan itu bertanya, kemana lelaki itu pergi sesuai rapat guru di kantor Dinas Pendidikan. “jadi bapak hanya rapat tidak kemana-mana setelah itu?” “dengan siapa kesana? Dengan guru perempuan kan?” laki-laki iyu mengerenyitkan alis tidak mengerti mengapa ia di tuduh. Di alam Nir, perempuan itu menjadi perbincangan anatara pencatat atma. “Ganjaran apa kita berikan buat perempuan pecemburu berat seperti itu. Sampai membunuh pesaing jika ia datang lagi ke nir?” tanya si Pipi gembul kepada rekanya.

 

Cerpen tersebut berkisah tentang masyarakat hindu bali yang percaya tentang tradisi rengkarnasi atman. Seseorang yang sudah meninggal bisa hidup Kembali sebagai rengkarnasi kehidupan dulu. Hasil temuan cerpen tersebut masyarakat hindu Bali masih percaya tentang adanya tradisi kepercyaan yang diwariskan oleh nenek moyang tentang rengkarnasi. Rengkarnasi itu digambarkan oleh seorang istri yang pencemburu sehingga ia menyusul suaminya ke Nir.

 

“Bolehkah hamba menanyakan keberadaan seseorang?” hamba baru sampai ingin mengetahui keberadaan suami hamba yang datang ke Nir sebulan yang lalu”.

“wah-wah belum sejam lalu suamimu menitis ke Bumi.” Ujar si Pipi Gembul setelah memeriksa catatan. Mohon ampun hamba lancang, bolehkah hamba segera menyusul dia?” si pipi gembul tersenyum. “ini demi kesetiaan atau….” “Hamba bersumpah akan selalu merawatnya, kemanapun dia pergi.” “Merawat atau menjaga? Karena setia atau cemburu? Si Pipi gembul terkekeh.

Perempuan itu melengos malu, tapi ia bahagia karena diperkenankan Kembali ke bumi segera, padahal belum separo hari di nir. “tapi kedudukan dan martabatmu akan berbeda dengan dia.” “Tidak apa-apa yang penting kami ditakdirkan untuk selalu berdekatan dan bersama.”

 

Pada cerpen tersebut masyarakat mensikapi tradisi sebagai sebuah kepercayaan yang dapat diyakini dan kenyataan untuk di jalani diri sendiri seperti mensikapi tentang kematian.Tokoh mensikapi dengan menerima dan mempercayai adanya rengkarnasi dalam hidup manusia. Tokoh suami istri tersebut menggambarkan kebenaran adanya rekarnasi karena ketika meninggal ia bisa hidup kembali. Pengaruh tradisi dapat mengubah pandangan dan Tindakan masyarakat terhadap suatu hal yang di yakini sebagai kepercayaan yang turun temurun. Seperti kepercayaan rengkarnasi.

 

d)      CERPEN “BELIS SI MAS KAWIN” KARYA KARYA FANNY J POYK.

Cerpen ini mengisahkan sepasang kekasih yaitu Ben dan Jublina. Konflik dalam cerpen ini ialah kegalauan sepasang kekasih dari pulau Rote, Nusanternggara Timur. yang sudah 5 tahun berpacaran terancam gagal menikah akibat terbentur dengan adat Rote yang mengharuskan persyaratan mas kawin (belis) yang berat.

“Sudah terlalu lama.” Kata ayah. “Apa saja yang kalian lakukan selama lima tahun itu? maka cepat kau panggil dia ke rumah, ayah ingin segera melamarmu. Kalian sudah sama-sama dewasa, sudah sarjana dan punya pekerjaan yang bagus jadi PNS mau apa lagi?

Ben ku beritahu tentang itu, tentang panggilan ayahku. “kenapa ben kau takut bertemu ayaku?” tanyaku sambal memegang pegelangan tanganya. Ben tak berkata sepatah apapun.

Menurut cerita ayah, ibuku masih berdarah biru, turunan raja-raja Bilba. Sedangkan ayahku keturunan patih-patih yang menjadi tenaga administrasi di masa kerajaan dahulu. “kau tahu karena kau masih berdarah biru, maka suami mu harus paham hal itu. Kata ayah selalu. “Paham maksudnya?”  aku menatap mata ayahku. “kau bukan orang sembarangan kau perempuan Rote keturunan raja-raja Bilba. Jika menikah sangsuami harus memberikan belis yang bernilai tinggi pula. Kau bukanlah gadis dengan kasta rendahan.

“Sebenarnya budaya belis itu bagus,” kata pamanku. “itu menandakan bagaimana tingginya harkat dan martabat seseorang  perempuan rote. Di zaman Ndana dulu, lelaki di kepulauan ndana termasuk rote, sebelum menikah selain harus memberikan mamar (tanah perkebunan, habas(kalung emas), dan puluhan ekor kerbau, setelah menikah lelaki itu juga harus  tinggal melayani keluarga sang perempuan selama berbulan-bulan sementara istrinya di bawa ke rumahnya. “Sekarang zaman sudah berubah terkadang belis tidak lagi menjadi persyaratan, yang penting cint, kawin sudah” tambah Om Eben.

“Ben masih membisu tatkala ku ulangi lagi kalau ayah ingin bertemu denganya. “Hei, ada apa denganmu? Apa yang kau cemaskan?” tanyaku. Ben berkata dengan sangat perlahan, “Aku tak punya apa-apa yang aku berikan padamu Jublina, aku tak punya belis, aku hanya punya cinta yang tak bisa aku lukiskan begitu besarnya.

“kita kawin lari saja!” usulku. Apa? Ben terkejut kau mau kita dikutuk keluarga?” “Nanti kupikirkan. Memang sebaiknya aku harus datang menghadap ayahmu” katanya kemudian.

 

Akhirnya, Ben mendatangi ayah kekasihnya Jublina. Ayah dari kekasih Ben memutuskan tidak meminta belis. Ia hanya ingin anaknya segera menikah dan ia ingin ben segera melaporkan kekeluarganya untuk segerea melamar.

Ayahku menerima Ben dengan senyum misterius. “sudah lima tahun kalian berpacaran, itu sudah terlalu lama. Usia putriku semakin menua. Mas produktif dia untuk melahirkan anak semakin menyusut. Aku meminta tahun ini juga kau melamar putriku.kalian harus menikah tak baik pacarana berlama-lama.” Kata ayah.

Tapi pak, bagaimana proses lamaranya? Saya….”

“Prose lamaran apa? Seperti yang terjadi pada adat kita toh. Ayah dan ibumu datang kesini melamar anakku. Lalu ada pantun untuk menyepakati proses berlangsungnya pernikahan nanti. Berapa mahar atau belis yang harus kau berikan. Itu tergantung dari pantun tawar-menawar yang diucapkan oleh saudara-saudaraku. Yah kita tidak main mutlak-mutlakanlah, ada pertimbangan khusus yang berkaitan dengan belis yang akan kau serahkan nanti. Sudahlah tak usah kau pikirkan terlalu berat, kau kabarkan berita ini kepada orang tuamu. Yang penting kau harus segera menikah!” ultimatum ayah.

Dari hasil tawar menawar bahasa pantun yang gemulai, keluargaku hanya mengajukan dana dua puluh juta saja untuk pernikahan kita. Itupun tampa mamar, tampa habasa, tampa lima puluh ekor kerbau.

“Dan ayahku apa responsnya?”

“Dia setuju, dari pada anaknya jadi perawan tua katanya, hehe hehe…”

 

Berdasarkan hasil temuan tradisi lokal manusia dan ada  aturan masyarakat lokal Rote. Seperti tradisi menyiapkan belis ketika hendak menikah, adanya tradisi tentang kasta kerajaan berdarah biru dan warga biasa, serta adanya tawar menawar menggunakan Bahasa pantun ketika melaksanakan lamaran. Masyarakat masih mempercayai tradisi belis dan kasta dalam masyarakat Rote. Namun dalam cerpen itu ditemukan tradisi pernikahan tersebut tidak ditaati dan tidak dilaksankan karena beberapa faktor.

“Menurut cerita ayah, ibuku masih berdarah biru, turunan raja-raja Bilba. Sedangkan ayahku keturunan patih-patih yang menjadi tenaga administrasi di masa kerajaan dahulu. “kau tahu karena kau masih berdarah biru, maka suami mu harus paham hal itu. Kata ayah selalu. “Paham maksudnya?”  aku menatap mata ayahku. “kau bukan orang sembarangan kau perempuan Rote keturunan raja-raja Bilba. Jika menikah sangsuami harus memberikan belis yang bernilai tinggi pula. Kau bukanlah gadis dengan kasta rendahan.”

Dari hasil tawar menawar Bahasa pantun yang gemulai, keluargaku hanya mengajukan dana dua puluh juta saja untuk pernikahan kita. Itupun tampa mamar, tampa habasa, tampa lima puluh ekor kerbau

 

Tokoh mensikapi tradisi sebagai sebuah aturan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka terlebih keturunan bangsa raja-raja Bilba. Akan tetapi, tokoh mensikapi dengan menolak untuk melaksanakan aturan adat tentang pemberian belis. Tokoh merespons kurang menyetujui ketentuan dan aturan dalam tradisi karena memberatkan pihak laki-laki. Akhirnya kedua pihak antara laki-laki dan perempuan melalui tawar menarawar keluarga hanya mengajukan dana dua puluh juta saja. Sehingga sikap tokoh menolak tradisi belis yang sudah ada.

Perilaku tokoh terhadap tradisi tidak menjalankan aturan adat yang di wariskan nenek moyang. Hal tersebut karena pengaruh perkembangan dan pandagan tokoh terhadap tradisi yang ada. Sorang tokoh laki-laki yaitu Ben adalah lulusan dari universitas serta dia adalah PNS sehingga pemikiranya tidak lagi konvensional. Sedangkan perilaku ayah dari calon istrinya masih konvensional sehingga perilakunya mempercayai dan menaati aturan tradisi. Akan tetapi keduanya akhirnya berprilaku sama yaitu tidak menjalankan tradisi Belis ketika melaksanakan pernikahan.

 

e)      CERPEN “MENGAPA MEREKA BERDOA KEPADA POHON” KARYA FAISAL ODDANG

Cerpen ini mengisahkan perlawanan Laskar Andi Makasar dan Laskar Bacuikikki yang melawan agresi militer Belanda di Parepare, Sulawesi Selatan. Tokoh yang dibangun dalam cerpen ini ialah perjuangan seorang santri, para ustad yang mengajarkan mengaji tetapi kemudian mereka harus berperang melawan penjajah belanda yang Kembali ke Indonesia dan datang ke kampung mereka. Ada seorang ustadz bernama ustad samsuri yang di ceritakan oleh tokoh rahing. Ustadz Samsuri berperang melawan belanda dan akhirnya mati syahid di sebuah lapangan di pare-pare. Sejak saat itu banyak masayrakat menduga ustadz Samsuri tewas, lalu tumbuh menjadi pohom asam. Sejak saat itu banyak masayrakat yang berdoa pada pohon asam, dan menggantungkan kain sebagai tanda doa.

Desember 1946 baru saja dimulai ketika kabar tiba di langgar. Tempatku setiap hari mengajari mengaji. “Mereka tiba di Makasar” suara Rachin tidak pernah secemas itu. “Pasukan tambahan, tambahanya banyak.” Susulnya gemetar. Dari makasar baru saja aku dengar kabar mereka Kembali ingin menguasai pusat-pusat perlawanan di Sulawesi-Selatan. Bersama Raching, bersama Lasakar Andi Makasar aku pernah berjuang sebelum kemerdekaan dan setelah semua kami rebut penjajah laknatullah itu Kembali.

Pertengahan Januari, sebulan setelah kabar dari Raching, mereka menuju kampung kami. Pintu di gedor oleh seseorang yang Nampak buru-buru. Benar saja ketiku kubuka, kutemukan Raching Nampak pucat sebelum terbata-bata.  Mengatakan bahwa si Jagal dari Turki sudah di perbatasan dan berusaha di tahan oleh lascar. Aku menuju perbatasan bersama lebih dari dua puluh anggota Laskar Bacukikki di tengah hujan yang belum berhenti dari kemaren sore. Pertahanan di perbatasan kalah. Kami didesak masuk tersembunyi di rumah-rumah penduduk. Penduduk yang menampung kami waktu itu juga di giring seperti kerbau ke tengah ketika sore hampir selesai.

Kami berbaris di lapangan dengan lutut menumpu di tanah dengan lutut menumpu dan tangan dikekang ke belakang. Siapakah yang ia cari? Aku bertanya-tanya dalam hati. Mungkin…, mungkin, dia yang disebut Raching si Jegal dari Turki Itu? Tiba-tiba pistol itu Meletus disusul tubuh perempuan rubuh di depanku. Dia istriku pemberontak! Suasana mulai ricuh, beberapa orang berusaha melarikan diri sebelum tubuh mereka jatuh menimpah tanah dengan darah yang tercampur air hujan.  Puluhan nyawa dicampakan kurang dari lima menit. Di dalam gelap mereka menembakan kami tampa iba. Teriakan dan erengan berganti saling sahut. Besoknya hujan reda, dan ratusn mayat bergelimpangan di lapangan. Kecuali tubuhku hilang karena aku suci  bagi orang di Bacukikki.

Begitulah Ustad Samsuri semasa hidupnya seperti pohon asam. Buahnya jadi bumbu masak, daunya jadi sayur. Rantingnya jadi kayu bakar, dan batangnya bisa jadi papan tiang rumah.

Air mata rahing jatuh menyampaikan itu semua kepada warga yang merubut di tengah lapangan, menyaksikan pohon asam tumbuh di sana beberapa bulan setelah DST angakat kaki dari Pare-pare. Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi sesamanya,” lanjut raching terisak. Arwah Ustad Samsuri tumbuh menjadi pohon asam yang penuh manfaat. Tubuhnya naik ke langit. Menyesal aku tak syahid bersamanya. Mari berdoa untuk beliau. Alfatihah.

 

“Sejak saat itu orang-orang rajin berdatangan dan semakin rajin berdoa disana. Hingga sekarang puluhan tahun kemudian”.

 

Berdasakan hasil temuan tradisi tersebut berkaitan dengan aturan dan kepercayaan masayrakat dengan tuhan. Tradisi yang ditemukan yaitu tradisi berdoa di pohon asem yang berada di sebuah lapangan. Masyarakat masih percaya doa yang mereka sampaikan di depan pohon itu akan di kabulkan. Serta masayrakat percaya pohon itu adalah jelmaan dari Ustadz Samsuri salah satu ustad yang berjuang ketika masa peperangan. Padahal berdoa di pohon melanggar syariat islam.

“Puluhan nyawa dicampakan kurang dari lima menit. Di dalam gelap mereka menembakan kami tampa iba. Teriakan dan erengan berganti saling sahut. Besoknya hujan reda, dan ratusan mayat bergelimpangan di lapangan. Kecuali tubuhku hilang karena aku suci bagi orang di Bacukikki”.

Begitulah Ustad Samsuri semasa hidupnya seperti pohon asam. Buahnya jadi bumbu masak, daunya jadi sayur. Rantingnya jadi kayu bakar, dan batangnya bisa jadi papan tiang rumah.

Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi sesamanya,” lanjut raching terisak. Arwah Ustad Samsuri tumbuh menjadi pohon asam yang penuh manfaat. Tubuhnya naik ke langit. Menyesal aku tak syahid bersamanya. Mari berdoa untuk beliau. Alfatihah.

Sejak saat itu orang-orang rajin berdatangan dan semakin rajin berdoa disana. Hingga sekarang puluhan tahun kemudian.

Pada cerpen tersebut menggambarkan bahwa masyarakat mensikapi dengan mempercayai dan meyakini tentang tradisi lokal yaitu berdoa di pohon asam. Masyrakat mensikapi dengan mempercayai bahwa pohon asam adalah jelmaan dari Ustad Samsuri yang gugur ketika berperang dan dapat membantu mereka untuk mengabulkan doa. Padahal kurang sesuai dengan syariat islam. Tradisi telah mempengaruhi Tindakan yang terjadi masayrakat. Dengan pengaruh tradisi lokal nenek moyang yang berdoa di pohon asam. Maka banyak masayrakat yang masih meyakini dan berindak untuk berdoa di pohon asam.  

4.      Hasil Pembahasan

Cerita dalam karya sastra pada akhrinya tidak akan terpisahkan oleh masyarakat. sastra dan masyarakat menjadi komponen yang tak di pisahkan. Oleh karena itu, seorang pengarang harus mengamati bagiamana kehidupan yang terjadi di masyarakat dan kemudian dituangkan dalam bentuk karya sastra. Peristiwa yang terjadi di masyarakat seperti tradisi, sosial, politik menjadi  bahan untuk dituangkan dalam karya sastra. Seperti lima cerpen yang dibahas oleh penulis yang membahas tentang tradisi masyarakat lokal.

            Masyarakat lokal indonsia masih banyak yang percaya tentang tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu. Menurut khazanah Bahasa Indonesia, tradisi berarti segala sesuatu seperti adat, kebiasaan, ajaran dan sebagainya dan turun temurun dari nenek moyang. banyak masyarakat yang masih menjalankan tradisi yang ada di masyarakat. namun, adapula masyarakat yang memilih tidak menjalankan tradisi yang ada.

Pada cerpen “Belis Si Maskawin” menggambarkan tradisi adat masyarakat lokal wilayah timur Indonesia. Dalam tradisi itu seseorang yang ingin melaksanakan pernikahan harus menyerahkan Belis. “kau bukan orang sembarangan kau perempuan Rote keturunan raja-raja Bilba”. Jika menikah sangsuami harus memberikan belis yang bernilai tinggi pula. Kau bukanlah gadis dengan kasta rendahan. Akan tetapi dalam cerpen tersebut tidak menjalankan tradisi adat “Belis”. “Dari hasil tawar menawar bahasa pantun yang gemulai, keluargaku hanya mengajukan dana dua puluh juta saja untuk pernikahan kita. Itupun tampa mamar, tampa habasa, tampa lima puluh ekor kerbau”.

            Di zaman yang sudah semakin maju terkadang masyarakat melewatkan tradisi adat yang di wariskan oleh nenek moyang. Dalam perkembangan kehidupan saat ini, tradisi mulai ditinggalkan atau dikurangi kelengkapannya terkait dengan faktor ekonomi ataupun kepraktisan. Karena sebuah proses upacara tradisi selain sarat dengan komitmen dan keteguhan hati untuk melaksanakannya, juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit dalam persiapan dan penyelenggaran.

            Tradisi memiliki berbagai aturan-aturan dan norma-noram yang dijalankan oleh manusia dengan manusia lainya, mengatur tindakan manusia dengan lingkunganya, dan mengatur manusia dengan alam lain. Pada cerpen “Roh Meratus” yang mengisahkan tentang tradisi lokal pegunungan Meratus, Kalimantan. Masyarakat lokal Kalimantan masih mempercayai adat, mitos, dan kepercayaan dan kebiasaan masyarakat tentang adanya penunggu pegunungan Roh. Tadisi tersebut mengatur anatara manusia dan lingkunganya. “Tetua Memandangku yang berdiri terpaku “Roh Meratus” katanya seperti berdesis. Aku berbedik ngeri “kau salah satu dari orang-orang yang kabarnya memberikan tanda silang pohon-pohon besar di hutan sana?” tanya tetua”. Tindakan masyarakat terhadap lingkunganpun memiliki tradisi dan aturan tersendiri di berbagai wilayah. Seringkali masyarakat mengkaitkan tradisi dengan mitos di lingkungan tersebut.

Semua aturan dan norma dalam tradisi harus disepakati dan dijalankan oleh masyarakat. Namun seringkali masyarakat melanggar dan melakukan Tindakan tidak sesuai dengan aturan dan tradisi. Jika sudah melanggar aturan tradisi maka harus siap mendapatkan sanksi. Seperti pada cerpen “Terumbu Tulang Istri” tokoh kayan diberikan sanksi karena melanggar ketentuan adat setempat. “Ia dilaporkan oleh pengurus adat. Atas nama rapat adat, kayan dan sapi betina dikawinkan dalam satu upacara dengan saksi seluruh warga adat, di perempatan desa, di pantai, dan di tengah laut”. Oleh karena itu, kita harus mengetahui segala tradisi masyarakat lokal yang terdapat di Indonesia. Sehingga, kita dapat menjalankan aturan-aturan tradisi itu dan tidak melanggar dan diberi sanksi.

Tradisi masyarakat lokal tidak hanya bersifat duniawi akan tetapi bisa bersifat ghaib. Artinya, Masyarakat lokal Indonesia memiliki tradisi yang berkaitan dengan manusia dan alam lain atau kepercayaan. Sikap masyarakat masih percayai terhadap suatu hal atau tradisi yang bersifat ghaib. Seperti pada cerpen “Istri Pecemburu” yang mengisahkan rengkarnasi. Masyarakat hindu di wilayah bali percaya akan adanya rengkarnasi. “wah-wah belum sejam lalu suamimu menitis ke Bumi.” Ujar si Pipi Gembul setelah memeriksa catatan. Mohon ampun hamba lancang, bolehkah hamba segera menyusul dia?” si pipi gembul tersenyum. Hal tersebut termasuk ke dalam tradisi antara manusia dengan alam lain. Pada cerpen “Mengapa Mereka Berdoa di Pohon” yang mengisahkan masyarakat di wilayah Pare-pare, Sulawesi Selatan. Masyarakat lokal memiliki kepercayaan tersendiri. Mereka memiliki kepercayaan tradisi berdoa di pohon asem “Sejak saat itu orang-orang rajin berdatangan dan semakin rajin berdoa disana. Hingga sekarang puluhan tahun kemudian”.

Segala sikap dan perilaku dalam masyarakat dapat berupa nilai, norma sosial, pola kelakuan, adat istiadat dan segala aspek kehidupan. Menurut Rakhmat (1992 :39) Sikap adalah kecenderungan seseorang untuk bisa bertindak, berpikir dan juga merasa bahwa dirinya paling baik dalam menghadapi objek, ide dan juga situasi ataupun nilai. Sikap bukanlah perilaku menurut Jalaluddin namun kecenderungan untuk perilaku dengan menggunakan metode tertentu saja terhadap objek sikap. Objek sendiri bisa berbentuk apa saja yakni orang, tempat, gagasan, ataupun situasi dalam kelompok.

Sikap dan perilaku yang muncul dalam kelima cerpen menggambarkan berbagai sikap dan perilaku masyarakat Indonesia terhadap tradisi. Tokoh Aku pada cerpen “Roh Meratus” memiliki sikap dan perilaku yang kurang sesuai dengan nilai-nilai dan pola kelakuan yang terjadi di masyarakat. ia melanggar nilai dan kelakuan yang telah ditentukan yaitu menandai pohon di pegunungan meratus. pelanggaran sikap dan perilaku juga dapat dijumapai dalam tokoh kayan dalam cerpen “Terumbu tulang Istri” ia memiliki sikap dan perilaku yang melanggar nilai dan norma sosial. Ia dihukum oleh ketentuan adat karena perilaku seks yang menyimpang oleh ketentuan adat. Oleh karenanya, fungsi dan peran tradisi yang berisi aturan-aturan memengaruhi sikap dan perilaku masyarakat. dengan adanya tradisi di tengah masyarakat mampu mensikapi pelanggaran-pelanggaran sikap dan perilaku di masyarakat.

Sikap dan perilaku tokoh Ben pada cerpen “Belis Si Maskawin” memiliki sikap dan perilaku yang bersebrangan dengan tradisi yang ada. Sikap Ben bertentangan dengan nilai sosial dan adat istiadat yang ada. Ben merasa tradisi Belis membelenggunya dan memberatkan untuk dilaksanakan sebagai syarat sebelum menikah. Dan akhrinya Ben dan keluarga memiliki sikap menolak terhadap tradisi. Hal ini sering di jumpai oleh masyarakat Indonesia ketika melaksanakan upacara perkawinan. Sikap dan perilaku masyarakat seringkali bersebrangan dengan tradisi dan sering merasa keberatan dengan tradisi tersebut.

Berbeda dengan tokoh suami istri dalam cerpen “Istri Pecemburu” dan masyarakat yang berdoa di pohon pada cerpen “Mengapa Mereka Berdoa di Pohon” sikap dan perilaku para tokoh menyimpang dari nilai agama. Kedua cerpen tersebut menyimpang dari nilai-nilai agama karena percaya akan adanya rengkarnasi dan berdoa di sebuah pohon.

Sikap dan perilaku manusia terhadap tradisi memang memiliki panadangan berbeda-beda. Kecendurang masayrakat memang masih banyak memercayai berbagai tradisi yang di wariskan oleh nenek moyang. Namun sebagaian lagi memilih untuk tidak lagi menjalankanya. Masyarakat tentu mensikapi sebuah tradisi dengan bijak, baik dan patuh. Jika, terjadi pelanggaran masyarakat menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang ada dalam tradisi di kalangan masyarakat seperti pada cerpen “Roh Meratus” dan “Terumbu tulang istri”. Disamping itu, masyarakat mensikapi tradisi disesuaikan dengan kehidupan mereka dan relefansinya terhadap kehidupan saat ini seperti pada cerpen “Belis Si Maskawin” dan masyarakat mensikapi tradisi sesuai dengan kepercayaan masyarakat seperti pada cerpen “Istri Pecemburu” dan “Mengapa Mereka Berdoa di Pohon”.

Karya sastra tercipta karena keinginan pengarang untuk mengungkapkan eksistensinya sebagai seorang manusia yang mempunyai ide, gagasan, dan pesan yang terinspirasi oleh realitas sosial maupun budaya serta menggunakan media bahasa sebagai media penyampaiannya (Aniswanti dan Wahyuningtyas, 2016:99)

Melalui penggambaran tradisi lokal masyarakat indonesia pengaran berhasil menggambarkan dan mengimajinasikan sebuah karya yang menarik. Pengarang menggambarkan sebuah tradisi dengan fakta sosial yang terjadi di masyarakat. Warna tradisi yang di ceritakan sesuai dengan apa yang ada dalam kelompok masayrakrat seperti tradisi masyarakat tentang penunggu pegunungan roh meratus. masyrakat Bali yang percaya akan rengkarnasi, percaya tentang upacara kepada dewa, cerpen tentang tradisi masyarakat Rote tentang Belis pernikahan, dan masyarakat Pare-pare Sulawesi yang menggambarkan tentang kepercayaan religi masyarakat yang berdoa di pohon. Semua tradisi itu ada kesesuaian dengan yang terjadi di masayarakat dan mampu di imajinasikan lebih menarik melalui karya sastra.

 

5.      Kesimpulan

Masyrakat Indonesia memiliki tradisi yang beragam pada setiap wilayah. Tradisi yang merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun menjadi acuan kehidupan di suatu masyarakat. Tradisi yang berisi aturan-aturan yang disepakati bersama tidak hanya mengatur manusia dan manusia saja melainkan manusia dengan lingkungan maupun manusia dengan alam lain. Masayrakat Indonesia masih banyak percaya terhadap tradisi yang ada, namun tak jarang juga ada yang sudah tidak menjalankan tradisi karena berbagai faktor. Seperti pada cerpen “Belis Si Maskawin”.

Dalam sebuah tradisi ada tiga wujud kebudayaan diantaranya dalam bukunya; pertama wujud kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai atau norma. Kedua, wujud kebudayaan sebagai aktivitas atau pola tindakan manusia dalam masyarakat. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia Sumber. Masayrakat Indonesia seringkali melakukan perilaku menyimpang dan tidak sesuai dengan tradisi yang ada oleh karenanya masyarakat melakukan kesepakatan dengan diberikan sanksi sesuai dengan adat istiadat setempat. Seperti pada cerpen “Terumbu Tulang Istri” yang melanggar adat sehingga dilaksanakan upacara perkawinan dan guru piduka. Tradisi masyarakat lokal Indonesia masih memepercayai tradisi yang bersifat ghaib. Seperti percaya roh, kepercayaan, dan lain sebagainya seperti pada cerpen “Roh Meratus”, “Istri Pecumburu” dan “Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon” adalh bentuk tradisi yang bersifat ghaib dan berkaitan dengan tradisi kepercayaan masayrakat.

Masyarakat memiliki sikap dan perilaku tersendiri terhadap tradisi yang ada. Ada yang mensikapinya dengan bijak dan melakukanya, ada pula yang menyesuaikan dengan kehidupan saat ini, ada juga yang sesuai dengan kepercayaan mereka. Namun masyarakat Indonesia masih banyak yang memiliki perilaku yang baik yang sesuai dengan tradisi yang ada. Walau bagaimanapun, masyarakat dan tradisi akan selalu beriiringan dan tidak terlepaskan. Namun masyarakat memiliki hak untuk menjalankan tradisi tersebut. Pengarang berhasil membuat cerpen yang menarik dengan memperhatikan fakta sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam lima cepen tersebut memiliki fakta tentang tradisi lokal masayrakat Indonesia.

 

 

Rujukan

            Damono, Sapdji. “Sosiologi Sastra Sebuah Pengntar Ringkas”. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Sudjana, Nana dan Ibrahim. (2004). Penelitian Dan Penilaian Pendidikan, Bandung:Sinar Baru Algensindo

Notoatmodjo, Soekidjo, 2003, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Wiyatmi. 2013. Sosiologi Sastra. Kanwa Publisher.

            Jurnal:

Sobihah Rasyad, Abdul Rozak & Dinda Luthfiana Rozak. RAGAM KARAKTER MANUSIA INDONESIA DALAM  7 CERITA PENDEK.

Aniswanti, Anik dan Wahyuningtyas, Sri. 2016. “Aspek Sosial Dalam Novel Partikel Karya Dewi Lestari:  Tinjauan Sosiologi Sastra”.  Journal of Caraka, vol 3 (1):  98-111.

Ira Rahayu. “Gelap Antara Terang Masayarakat Pesisir Cirebon, Sebuah Analisis Cerpen Karya Asbdul Majid”. Deiksis. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.

            Sumber Data

6.       “Roh Meratus” Karya Zaidinoor: Dimuat pada Tanah Air. Cerpen Kumpulan Kompas Edisi 2016

7.       “Terumbu Tuang Istri” Karya Made Andina: Dimuat pada Tanah Air. Cerpen Kumpulan Kompas Edisi 2016

8.       “Perempuan Pencemburu” Karya Gede Aryantha Soethama: Dimuat pada Tanah Air. Cerpen Kumpulan Kompas Edisi 2016

9.        “Belis Si Mas Kawin” Karya Karya FannyJ Poyk: Dimuat pada Tanah Air. Cerpen Kumpulan Kompas Edisi 2016

10.   “Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon” Karya Faisal Oddang: Dimuat pada Tanah Air. Cerpen Kumpulan Kompas Edisi 2016

Internet:

https://wahdah.or.id/menyikapi-tradisi-adat-istiadat-dalam-perspektif-islam/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Post a Comment

0 Comments