Advertisement

Main Ad

Contoh Teks Ulasan NEGERI 5 MENARA

 

TEKS ULASAN

NEGERI 5 MENARA




Judul              : Negeri 5 Menara
Penulis           : Ahmad Fuadi
Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal              :432 Halaman

Orientasi
Novel negeri 5 menara adalah novel karya Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh gramedia tahun 2010. Novel ini termasuk dalam kategori novel religius yang bertemakan pendidikan. Novel ini menyajikan tentang dunia pendidikan khas pesantren, lengkap dengan segala kehidupan santrinya.Secara umum, sang penulis mengisahkan pengalaman hidup enam orang pemuda yang menempuh pendidikan di sebuah pesantren terkenal bernama Pesantren Madani. Keenam tokoh tersebut adalah Alif Fikri yang berasal dari Padang, Atang yang berasal dari Bandung, Raja dari Medan, Dulmajid yang datang dari daerah Sumenep, Said dari kota Mojokerto, dan terkahir Baso yang berasal dari sebuah daerah di Sulawesi Selatan bernama Gowa. Keenam sahabat itu bersama-sama mengarungi kehidupan pendidikan di Pesantren Madani.
Tafsiran    
 Pada bab pertama buku ini, menceritakan tentang Alif Fikri sebagai tokoh utama yang telah berhasil menjadi wartawan di Washington DC. Cerita berawal ketika ia mendapatkan pesan dari teman lamanya yang bernama Atang yang telah menjadi orang sukses di Kairo. Ketika mendapatkan pesan tersebut, Alif teringat akan masa lalunya di Maninjau dan Pesantren Madani bersama teman temannya. Bab selanjutnya buku ini, sang penulis menceritakan masa lalu Alif di Maninjau. Alif baru tamat madrasah negeri,sekolah sederajat SMP yang bernuansa islam. Alif lulus dengan nilai tertinggi di Kabupaten Agam. Alif berencana akan melanjutkan pendidikannya ke SMA di Bukit Tinggi, tetapi hal itu ditentang keras oleh amak (ibu) Alif karena amak menyuruh alif melanjutkan pendidikannya ke madrasah aliyah. Amak beraggapan jika Alif menuntut ilmu dalam bidang agama, maka Alif bisa menggapai dunia maupun akhirat. Alif sangat kecewa ketika amak melarangnya untuk melanjutkan ke SMA , Alif mengurung dirinya di kamar selama tiga hari.
Pada suatu hari, alif mendapatkan surat dari Pak Etek (paman) yang sedang belajar di Mesir, nama Pak Etek nya Gindo. Dalam surat itu, pamannya menyarankan Alif untuk melanjutkan pendidikannya di Pesantren Madani, Jawa Timur. Setelah membaca surat dari pamannya, Alif langsung membulatkan tekadnya untuk bersekolah di Pondok Pesantren Madani.Akhirnya, Alif berangkat ke Jawa Timur ditemani oleh Ayah dan pamannya yang bernama Muncak menggunakan bus. Setelah menempuh tiga hari perjalanan, akhirnya Alif sampai di Pondok Pesantren Madani. “Man Jadda Wa Jadda” begitulah si penulis membuat judul bab selanjutnya yang menceritakan tahap awal Alif dan teman-temannya bertemu. Keenam sahabat ini memiliki sifat dan karakter yang berbeda .Bab selanjutnya menceritakan tentang kisah menarik enam sahabat ini. Mereka menamai persahabatan mereka dengan sahibul menara, dikarenakan tempat berkumpul favorit mereka adalah menara.
Setelah empat tahun di Pondok Madani, ada satu hal yang membuat Alif kecewa dan sedih ketika dia mendapat surat dari teman lamanya Randai yang mengabarinya bahwa dia telah diterima di ITB. Diterima di ITB adalah harapan besar Alif dan Randai. Pada saat itu pikirannya guyah dan berencana untuk berhenti sekolah di Pondok Madani. Setelah empat tahun berlalu, Alif diterima disalah satu universitas di Bandung yaitu Universitas Padjajaran. Alif mengambil jurusan hubungan internasional dan berhasil menjadi wartawan Tempo. Kemudian, dia mendapat beasiswa ke Washington DC.
Evaluasi
Kekurangan novel ini adalah terlalu menggunakan bahasa daerah, sehingga membuat pembaca yang bukan berasal dari Minangkabau kesulitan untuk mengerti arti kosakatanya. Oleh karena itu, disetiap kosakata suit, dibawahnya dituliskan arti kosakata tersebut. Kekurangan dalam novel ini ditutupi oleh kelebihannya. Kelebihan novel ini dapat menyihir pembaca untuk merasakan suasana pesantren dan apa yang dilakukan oleh Alif dan kelima sahabatnya. Setelah membaca novel ini, kita akan menyadari bahwa pondok pesantren tidak hanya memberikan ilmu agama, tetapi juga ilmu umum. Selain itu, kita akan menghapus anggapan bahwa anak lulusan pondok palingan hanya akan menjadi pemuka agama.
 Rangkuman
Dengan mengesampingkan kekurangan novel tersebut, novel ini dapat menginspirasi mengenai persahabatan, keikhlasan, kesungguhan atau kerja keras. Apalagi di Indonesia yang terdiri dari berbagai daerah dan suku yang berbeda sangat cocok sekali untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan perbedaan. Selain itu, semangat yang dilandasi oleh keikhlasan, dan kerja keras dalam novel ini dapat memotivasi generasi muda untuk lebih baik menentukan masa depan yang baik dengan pendidikannya.

Post a Comment

0 Comments